Berita Tanjungbalai – Pengrusakan vihara dan klenteng di Tanjung Balai, Sumatera Utara, menyusul permintaan agar pengeras suara di masjid dikecilkan yang terjadi tepat dua tahun lalu menjadi pelajaran tersendiri bagi toleransi antar umat beragama di kota kecil itu.

Malam itu begitu mencekam ketika segerombolan massa mendatangi vihara Tri Ratna yang terletak di muara sungai Asahan.

Setelah merangsek masuk ke halaman, massa yang kebanyakan pemuda tanggung melempari batu dan membakar dua mobil yang terpakir di halaman sambil menyerukan takbir.

Malam yang gelap berubah menjadi terang benderang seiring nyala api yang melalap mobil.

Pengurus muda-mudi Vihara Tri Ratna, Leonky Sapurtra, yang beberapa jam sebelumnya baru saja menuntaskan meditasinya di vihara itu, menuturkan kejadian yang mencekam yang terjadi dua tahun lalu.

“Kebetulan pada waktu itu ada dua mobil. Itu satu mobil kecil dan satu mobil bus, mobilnya mereka setengah terbalikan, mereka bakar dua mobil itu, kemudian mereka naik ke lantai dua,” ujar Leonky.

Di lantai dua, massa yang beringas kembali melakukan pengrusakan. Patung-patung buddha mereka jatuhkan, sementara beberapa inventaris vihara dibakar. Kaca jendela pecah dihajar lemparan batu.

Massa juga menyambangi vihara Huat Cu Keng yang berjarak satu kilometer dari Vihara Tri Ratna. Ang Tek Hui yang tinggal di depan klenteng menuturkan apa yang dilihatnya malam itu.

“(Kejadiannya) jam 11 malam lewat , di klenteng ada acara kumpul-kumpul. Pas selesai bersih-bersih aku pas pulang di rumah, uwak yang jaga tiba-tiba dilempar pakai batu,” ungkap pria yang akrab dipanggil Awi ini.

Tak berapa lama, polisi datang mengamankan situasi. Masa pun kemudian mundur. Namun, setelah terkumpul lebih banyak lagi, mereka kembali melakukan penyerangan. Polisi pun tak berkutik lantaran kebanyakan yang melakukan pengrusakan adalah anak dibawah umur.

“Polisi bisa nahan, yang melempar, yang merusak anak di bawah umur. Polisi bisa bertindak represif lah ya untuk anak di bawah umur,” jelasnya.

Penyelidikan kepolisian menyebut perusakan dan pembakaran sejumlah vihara dan kelenteng diawali permintaan seorang warga Tionghoa agar pimpinan sebuah masjid mengecilkan volume pengeras suara masjidnya.

Hal ini menimbulkan reaksi dari warga yang merasa tersinggung, dan kerusuhan pecah setelah ada provokasi melalui media sosial.

Namun, salah satu warga Tanjung Balai, Suryajaya menegaskan insiden itu murni karena kesalahpahaman.

“Yang satu bilang persoalannya kecil saja, tapi kemudian yang menyampaikan tadi salah, akhirnya recok, begitu dulu ceritanya.”

“Jadi yang lain itu terikut-ikut, akhirnya lain lagi cara penyampaiannya. Jadi akhirnya yang disampaikan diterima oleh orang yang tidak mengerti,” jelas Surya.

Suara mesin kapal motor yang berlayar di Sungai Asahan lamat-lamat terdengar ketika Surya mengatakan, kesalahpahaman yang dulu menyulut aksi intoleransi telah menjadi kenangan, hampir dua tahun berselang, setelah semua pihak turun tangan.

“Kapolres, Kapolda datang kemari sudah mendamaikan semuanya. Ulamanya pun sudah ngasih tau semua masyarakat bahwa itu sebetulanya tidak benar, jadi didamai-damaikan lah semuanya, tidak ada lagi persoalan,” tegasnya.

Peristiwa itu menjadi pelajaran tentang toleransi umat beragama. Kini, umat beragama hidup berdampingan secara normal. Ang Tek Hui menuturkan.

“Sekarang kegiatan warga normal semua. Cuma kita saling menghargai lah,” katanya.

“Kalau pas lagi azan, kita ada kegiatan yang pukul drum gitu lah. Saling menghargai,” imbuhnya kemudian.

Ang Tek Hui sepakat, insiden yang terjadi pada 23 Juli dua tahun lalu ini merupakan peristiwa spontan, yang dipicu kesalahpahaman. Selama hidupnya, warga Tanjung Balai rukun menjalani kehidupan, meski berbeda ras dan agama.

“Kalau asli orang Tanjung Balai ya pasti bisa bergaul. jadi pergaulan itu bagus kok, ada cekcok antara orang Tionghoa dan non Tionghoa, nggak ada masalah,” cetusnya.

Diakuinya, meski sempat trauma, warga Tionghoa di Tanjung Balai tak ada lagi rasa takut yang membayangi. Dia optimistis kerukunan umat beragama di Tanjung Balai tak akan kembali terusik isu SARA.

“(isu SARA) sekali ampuh, dua kali masyarakat non-Tionghoa juga nggak bodoh. Kami diperalat. Mereka pasti tahu itu,” jelasnya.

Senada, Leonky beranggapan toleransi di Tanjung Balai kian erat, apalagi menyusul kerusuhan, berbagai elemen masyarakat berkumpul dan menyepakati rekonsiliasi

“Setiap umat agama dikumpulin. dan kemudian mereka melakukan perjanjian toleransi antara umat beragama,” ujar Leonky.

Berkaca pada aksi intelorensi tersebut, Sekretaris Walubi Sumut Tony berharap masyarakat lebih dewasa menyikapi hal-hal yang sebetulnya tidak perlu.

“Setelah kejadian banyak masyarakat, bahkan umat yang di luar klenteng bahu membahu membangun kembali, bahkan masyarakat muslim juga ikut membangun.

“Itu membuktikan bahwa tidak semua masyarakat memiliki pemikiran yang negatif lah. Mungkin hanya segelintir yang bisa terprovokasi,” ungkapnya.[viva]