Makobar.com – Layanan pesan instan AOL Instant Messenger (AIM) tutup usia setelah 20 tahun beroperasi sejak 1997. Bagi para pengadopsi internet awal, layanan yang kini terasa jadul itu memiliki daya nostalgia tersendiri.

Salah satu yang menyimpan kisah kedekatan dengan AIM adalah CEO Facebook, Mark Zuckerberg. Ia sesumbar layanan Facebook Messenger sedikit banyak terinspirasi dari AIM.

Cerita Mark Zuckerberg soal AIM dituangkan melalui status Facebook pada akun personalnya, Sabtu (7/10/2017) kemarin. Salah satu kemampuan AIM yang ia sukai adalah membiarkan pengguna memilih status diam alias idle ketika sedang online.

Dengan begitu, pengguna bisa memilih untuk tak diganggu oleh chat dari orang-orang tertentu kendati tengah berada di depan komputer. Pengguna bisa mengobrol secara online dengan orang-orang yang benar-benar ingin diajak bercerita saja.

“Karena fitur itu, chat di Facebook selalu memungkinkan pengguna untuk mematikan (turn off) indikator aktivitas online,” ia menuturkan.

Mark Zuckerberg mengatakan AIM adalah salah satu bagian penting dari masa kecilnya. Ia belajar memahami komunikasi via internet secara emosional dan intuitif melalui penggunaan AIM.

Dari situ Mark Zuckerberg menemukan cita-citanya untuk membuat platform internet yang memungkinkan orang-orang terhubung meski terpaut jarak dan waktu. Hal lain yang memicunya mengimplementasikan cita-cita itu adalah sang ayah.

Mark Zuckerberg bercerita pada suatu hari sang ayah melihatnya menjajal AIM. Sang ayah lantas meminta dirinya menyetel AIM di komputer kantornya sehingga bisa berkomunikasi dengan rekan-rekannya.

Kala itu Mark Zuckerberg termotivasi membuatkan sistem selain AIM. Ia yang sedari kecil telah belajar dan mencintai coding akhirnya membuatkan sebuah sistem bertajuk “ZuckNet” untuk sang ayah dan rekan-rekannya.

Menurut Mark Zuckerberg, ada banyak hal yang kurang dari AIM dan ia perbaiki melalui ZuckNet. Lama-kelamaan hasratnya untuk membangun platform yang lebih besar semakin kuat dan akhirnya terciptalah Facebook dengan berbagai lika-likunya.

“Proyek dan pengalaman awal (dengan ZuckNet) merupakan bibit Facebook. Sejak awal AIM telah membentuk esensi mendalam bahwa bekerja akan lebih baik jika semua orang bisa terkoneksi dan berbagi,” ia menjelaskan, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Facebook personalnya.

“Saya telah hidup dengan pemikiran ini sejak kecil, dan saya sangat percaya dengannya hingga hari ini. Terima kasih untuk semuanya, AIM,” Mark Zuckerberg memungkasi.