Staf Dispenda Medan M Taupik Hilmi Lubis
Staf Dispenda Medan M Taupik Hilmi Lubis

Berita Medan – Saat sekarang ini, banyak tenaga honor di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Medan yang mempertanyakan nasib mereka karena masih menjadi Tenga honor.

Sebaiknya hal itu tidak perlu dipikirkan.

“Yang penting kita harus menciptakan inovasi dan berkerja dengan rajin,”kata Staf Dispenda Medan, M Taupik Hilmi Lubis, Minggu (22/4/2018) saat dijumpai di satu tempat nongkrong seputaran Lapangan Merdeka.

Ia mengatakan hal seperti itu karena karirnya di PNS berawal dari tenaga honor di wilayah hukum Pemko Medan.

“Saya masuk dan bekerja di Pemko Medan pada Tahun 1992. Dan itu langsung ditugaskan di Kantor Wali kota,”ujarnya.

Dirinya bisa bekerja menjadi tenaga honor dikarenakan orangtuanya juga bekerja di Pemko Medan sebagai pengantar surat.

“Saya dulu sering ikut dengan orangtua saya. Karena dilihat mereka (bos orangtua saya) aku rajin, makanya aku disuruh untuk bekerja di Pemko Medan,”katanya.

Mendengar hal seperti itu, diakui Taupik, dirinya langsung berterimakasih dan bertekad dalam hati kalau dirinya tidak mensia-siakan kesempatan yang diberikan Sang Pencipta kepadanya.

“Mulai dari situ, aku giat bekerja. Sampai-sampai aku dapat pujian kecil dari pimpinan. Itu yang membuatku semakin semangat,”ujarnya.

Kata pria yang 12 tahun jadi tenaga honor di Kantor Wali Kota Medan ini menyatakan dirinya mengikuti jejak orangtuanya yang juga PNS di Pemko Medan.

Jadi ceritanya begini, kata Taupik, orangtua kan PNS di Pemko Medan sebagai pengantar surat dibagian umum sekretaris Kota Medan.

“Awalnya karena saya sering dibawa oleh orangtua saya untuk mengantar surat. Kalau tidak salah itu saya baru tamat SMA. Diajak orangtua lalu saya ikut saja,”katanya.

Setelah orangtua pensiun pada Tahun 1992, kata Taupik, dirinya langsung diangkat jadi tenaga honor untuk menggantikan posisi orangtuanya.

Baca Juga: Pemko Medan Tak Becus ! 3 Bulan Honor Kepling dan Petugas Kebersihan Belum Dibayar

Tugas pertama Taupik saat menjadi tenaga honor adalah menjaga pompa air dan selain menjaga itu, dirinya juga terus melakukan tugas untuk mengantar surat di bagian umum.

Ditengah perjalanan menjadi tenaga honor kata Taupik, dirinya sempat putus asa.

Hal itu dikarenakan gaji yang diterima sangat tidak sesuai dengan pekerjaan yang diberikan.

“Saya sempat goyang dan berpikir kalau saya akan terus menjadi tenaga honor dan akan terus menjalani tugas dan kehidupan seperti ini,”ujarnya.

Yang membuat dirinya patah semangat ketika membaca surat perjanjian yang ditandatangani tercantum isinya bahwa para tenaga honor tidak menuntut jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Namun, kata Taupik, kalau dirinya memikirkan hal itu terus, maka impiannya menjadi seorang PNS akan gagal.

“Saya harus berubah dan harus jadi PNS. Itu yang saya tekankan di dalam diri saya,”katanya.

Dalam perjalanan masih menjadi tenaga honor, Taupik diajak seorang teman untuk mengikuti satu organisasi Partai Politik PKPI dan dirinya menjadi sekretaris partai PKPI Kota Medan pada 2004 silam.

“Saat itu saya diajak kawan dan kawan saya itu menyatakan kalau mau jadi PNS harus ada gebrakan dan harus ada masuk di satu organisasi. Makanya kawan saya menyuruh saya untuk gabung di PKPI. Terus saya mau dan saya menjadi sekretaris partai. Kemungkinan posisi saya di PKPI karena saya suka dan pintar dalam berorganisasi,”ujarnya.

Ia mengaku, karena sudah mengikuti partai, dirinya sempat menjadi Caleg dari partai PKPI di dapil 5 nomor urut 1.

“Saat itu saya masih honor,”ujarnya.

Dikatakan Taupik, karena dirinya sudah banyak gebrakan di lingkungan kerja dan memiliki banyak kawan yang bisa mensupport dan membantu dirinya dalam bekerja, akhirnya Taupik menjadi PNS di Pemko Medan.

“Kalau gak salah, saya diangkat jadi PNS saat SBY terpilih lagi menjadi presiden di periode kedua,”katanya.

Memang, katanya, jadi tenaga honor ini kalau tidak ada tekad menjadi PNS akan sangat pedih menjalaninya. Kenapa tidak, saat dirinya menjadi tenaga honor selama 12 tahun, di tahun pertama kerja setiap bulan Taufik hanya digaji Rp75Ribu, pada tahun kedua naik menjadi Rp100Ribu, sampai pada tahun 2006 gaji saya perbulan menjadi Rp1,5Juta.

“Setiap tahun gaji saya naik. Dan pada tahun 2007 tepatnya di bulan Januari saya jadi CPNS dan saya resmi jadi PNS pada tahun 2008,”ujar Taupik.

Maka dari itu, kata Taupik, kepada para tenaga honor di lingkungan Pemko Medan kalau mau jadi PNS bekerjalah dan berkarya.

“Jangan mengeluh dan bekerjalah dengan ikhlas. Apa yang kita lakukan pasti ada nilai dan dampaknya. Ingat, usaha itu tidak akan mengkhianati hasil,”katanya. (mc/fun)