Berita Jakarta – Sampai akhir 2019 Sinar Mas Land melihat pasar properti cenderung stagnan atau masih akan sama dengan kondisi dalam dua tahun terakhir.

Dan, Perusahaan melihat bahwa investor masih akan wait and see sampai pemilihan presiden selesai.

Di mana investor bukan tidak memiliki uang tetapi hanya menahan diri melihat perkembangan dan lebih memilih menempatkan dananya di deposito. Itu terbukti dari kondisi likuiditas yang sangat besar saat ini.

“Ini siklusnya memang begitu. Setiap kali kita menghadapi election presiden, market selalu turun 30%-40% sebelum pemilihan dilakukan. Tetapi enam bulan sampai setahun pasca pemilu, pasar akan meningkat tajam siapapun kandidat yang menang, tidak peduli sesuai atau tidak sesuai dengan harapan market,” kata Ishak Chandra, CEO Strategic Development & Sevices Sinar Mas Land di Jakarta.

Kecuali pada tahun 2014, meskipun presiden yang terpilih sesuai harapan market tetapi industri properti justru anjlok. Ishak bilang, kondisi tersebut tidak seperti siklus biasanya karena pada akhir 2013 Bank Indonesia mengeluarkan aturan yang menekan pertumbuhan properti seperti aturan loan to value (LTV) dan inden.

Dengan kondisi pasar yang tidak akan banyak berubah itu, Sinarmas telah menyiapkan strategi untuk bisa bisa tetap jualan dan mencatatkan pertumbuhan. Sinar Mas Land menargetkan penjualan tahun ini bisa lebih tinggi 20%-30% dari tahun 2017.

Strategi pertama yang dilakukan perusahaan adalah membuat properti bisa lebih likuid. Jika dulu investor yang misalnya memiliki uang Rp 5 miliar akan menginvestasikan seluruh uang ke properti. “Tetapi kondisi sekarang hanya Rp 2 miliar uangnya diinvestasikan, selebihnya ditaruh di instrumen yang lebih yang lebih likuid seperti deposito, saham dan lain-lain. Ini penyebabnya karena properti itu bukan instrumen yang likuid,” jelas Ishak.

Menurut Ishak, agar properti lebih likuid atau gampang dijual maka harga jualnya harus lebih murah. Untuk bisa memasarkan harga produk yang lebih murah maka strategi yang akan dilakukan Sinar Mas Land adalah membuat unit-unit yang lebih kecil.

Kedua, Sinar Mas Land akan menggelar program bertajuk Easy Deal. Ini merupakan program untuk menarik minat para pembeli dengan menawarkan kemudahan cara bayar dan akan berlangsung mulai April hingga Juli 2018.

Dalam program ini, Sinar Mas Land menawarkan subsidi uang muka atau Down Payment (DP) hingga 10% untuk pembayaran lewat KPA khusus untuk produk ready stock dan dalam proses pembangunan. Dengan program itu, maka konsumen yang tadinya harus membayarkan DP 15% cukup membayarkan DP 5% dan 10% lagi disubsidi oleh pengembang. Sementara bagi yang menggunakan skema pembayaran cash akan diberikan diskon langsung sebesar 20% dari harga jual.

Sedangkan untuk proyek-proyek inden, tidak akan mengikuti sistem itu karena proyek anyar tetap memiliki penawaran promo yang berebedaa dari masing-masing proyek. “Proyek inden tidak masuk dengan sistem ini karena bisa merusak sistem pemasarannya. Sebab masing-masing proyek baru juga memiliki program yang tidak kalah menarik,” kata Ishak.

Ishak menghimbau agar konsumen lebih cepat melakukan pembelian jika tertarik dengan promo-promo yang dilakukan Sinar Mas Land tersebut. Pasalnya subsidi uang muka atau diskon harga yang diberikan akan berbeda setiap bulannya. Jika subsidi yang diberikan pada April 10% maka pada Mei-Juni hanya 8% dan pada Juli 5%. Lalu jika diskon harga untuk pembelian tunai 20% di April maka pada Mei-Juni hanya 15% dan Juli 10%.

Total nilai produk yang ditawarkan Sinar Mas Land dalam program ini mencapai Rp 8,2 triliun. Sedangkan penjualan yang ditargetkan dari program ini mencapai Rp 2,5 triliun.

Sementara tahun ini, Sinar Mas Land lewat PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menargetkan marketing sales atau pra penjualan mencapai Rp 7,2 triliun atau flat dibandingkan tahun lalu. Namun secara penjualan produk properti target tersebut akan mengalami peningkatan karena marketing sales 2017 banyak ditopang oleh penjualan lahan kavling. Di luar BSD, Sinarmas juga mengandalkan penjualan lewat PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).