Berita Medan, Makobar.com – Pihak Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Sumatera Utara (PPA Sumut) mengecam perbuatan tidak terpuji yang dilakukan seorang ayah terhadap anak kandungnya dengan mencabulinya sejak usia 7 tahun di Padang Sidempuan. PPA berharap pelaku dihukum berat.

“Undang-undang kita memungkinkan pelaku pencabulan terhadap anak dikebiri. Jadi, harus dikebiri pelaku itu,” kata Satgas PPA Sumut, Muslim Harahap.

Dia menjelaskan Saat ini pemerintah telah melahirkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Pengesahan PP Nomor 1 Tahun 2016 terkait dengan kejahatan seksual anak. Pada Pasal 81 dan 82 beleid itu, pelaku cabul terhadap anak diberikan hukuman pidana 20 tahun penjara.

“Pada aturan lain, hukuman bisa ditambah satu per tiga dari pidana pokok jika pelakunya adalah orang tua korban,” katanya.

Dia menegaskan, pelaku di Padang Sidempuan itu juga memungkinkan pelaku untuk dikenai hukuman kebiri, yang dikenal dengan istilah pidana dengan tindakan.

“Hanya saja, hingga kini implementasi hukuman kebiri untuk pelaku kekerasan seksual terhadap anak belum jalan. Saya belum ada dengar ada pelaku yang dikebiri,” tegasnya.

Dia menerangkan pihak PPA Sumut menyarankan pemerintah Kota Padang Sidempuan untuk menggiring hukuman terhadap pelaku ke arah kebiri, agar hukuman menimbulkan efek jera.

“Apabila itu bisa, pasti ada efek jera terhadap pelaku. Pemerintah di sana harus menggandeng advokat,” ucap Muslim.

Dia mengungkapkan aksi tidak terpuji itu dilakukan Tambat Martua Pulungan (37), warga Kecamatan Padang Sidempuan Utara, Kota Padang Sedempuan. Selama 6 tahun, anaknya berinisial NA dicabuli berulang-ulang di rumah mereka.

Pelaku sendiri hanya tinggal bertiga dengan anak perempuan dan nenek korban. Saat ini anaknya telah berusia 13 tahun dan duduk di bangku kelas VI SD. NA sudah dalam penanganan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) setempat.

“Saat ini dia sedang menjalani trauma healing atas kejadian keji yang menimpanya,” ujar Muslim.

Dalam upaya penyembuhan itu, Satgas P2TP2A akan berkoordinasi dengan psikolog yang akan membuat agenda rutin dan penanganan berkala untuk membebaskan anak tersebut dari trauma.

“Tentu hal ini diupayakan agar anak ini bisa tumbuh sehat secara psikis. Target utamanya itu. Agar traumanya hilang,” pungkas Muslim.

Pelaku pencabulan terhadap anak ditangkap pada Selasa (30/7) di tempat kerjanya. Terakhir kali, pelaku mencabuli anak kandungnya Senin (29/7). Merasa tak tahan dengan perlakuan keji ayah kandungnya, sang anak lantas menceritakan kejadian itu kepada sepupunya, yang berujung pada pelaporan ke pihak polisi.