Berita Aceh, makobar – Sorotan matanya tajam, berkulit hitam manis, gaya bicara tegas tapi sangat ramah dan suka bergaul dengan siapa saja.

Bukan tokoh politik atau pengusaha hebat, bukan juga artis yang dikenal banyak kalangan. Namun, sekarang ia resmi menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh terpilih dan baru dilantik pada Senin (2/9/2019).

Ia adalah Zulfadli alias Oyong (25) termasuk anggota DPRK Aceh Timur termuda dengan menggandeng perahu Partai Nasdem dengan perolehan suara mencapai 1.273 dan merupakan suara terbanyak kedua dari lima anggota dewan terpilih dari Partai Nasdem.

Kepada wartawan, ia bercerita saat dirinya melakukan kampanye. Di mana, akunya, banyak orang meragukan dirinya bisa mendapat satu kursi di DPRK Aceh Timur.

Bahkan, tidak sedikit yang meremehkannya serta mengejeknya karena Oyong memilih partai Nasdem.

Namun keraguan dan ocehan orang tidak membuat putra pertama dari empat bersaudara pasangan Ilyas dan Nazariah yang beralamat di Dusun Cot Geulumpang, Desa Lhok Dalam, Kecamatan Darul Ikhsan ini patah semangat.

Malah sebaliknya, dengan dukungan kelompok pemuda, seperti sahabat IDI Rayeuk, Pemuda Bukit Itam, Rakan Setia Oyong dan niat tulus serta keseriusannya untuk membela hak rakyat membuat Oyong yakin dan percaya diri untuk terus berjuang.

Suami Herlayanti ini mengaku terjun ke dunia politik sejak tahun 2014 lalu sebagai kader Partai Aceh (PA).

Ia memilih partai Nasdem sebagai perahu agar dirinya bisa menjalin hubungan politik sampai ketingkat nasional.

Ia berharap dengan terpilihnya sebagai anggota DPRK Aceh Timur bisa memotivasi pemuda untuk berkiprah di dunia politik dan menjadi wakil rakyat.

“Hari ini membuktikan bahwa saya mampu dan dipercayakan oleh Rakyat, saya yakin pemuda lainnya juga mampu berkiprah dalam politik,”gumamnya.

Kepada wartawan ia menyatakan akan berusaha membangun Aceh Timur dengan cara melobi ke berbagai Instansi hingga ke Pusat.

Ia juga akan berjuang meningkatkan penghasilan petani dengan mengajak dinas terkait untuk berperan aktif dalam pemberdayaan, penyaluran bantuan tepat sasaran dan pembinaan petani secara berkelanjutan serta pendampingan yang maksimal.

Selama ini, akunya, bantuan pemerintah kepada kelompok tani atau penerima lainnya bagaikan bantuan tak bertuan.

“Setelah diluncurkan tidak ada evaluasi dan pengawasan sehingga banyak bantuan baik bantuan nonfisik maupun fisik disalahgunakan oleh penerima sehingga hasilnya nihil,”ujarnya.

Ia juga akan memperjuangkan untuk mengurangi angka pengangguran dengan cara menghadirkan perusahaan industri hasil bumi juga menjadi program kerja Oyong ke depan.

Misalnya, sambung Oyong, hasil kelapa untuk ditingkat agen lokal dibanderol Rp 1 Ribu per kilogram dan kelapa tersebut diangkut ke Kisaran dan Medan.

“Karena di sana yang ada Pabrik pengolahan kelapa, sedangkan biaya angkut mencapai Rp 300/kg, ini juga sangat merugikan petani kita,”terangnya.

Dengan banyaknya kelapa yang diangkut ke Kisaran dan Kota Medan, masih dikatakan Oyong sudah sangat layak pemerintah Aceh Timur mengundang investor dan mengajak perusahaan lokal untuk membangun pabrik kelapa sawit (PKS) di kabupaten yang sedang mekar ini.

“Yang pasti dengan memberikan kemudahan administrasi dan jaminan keamanan,”katanya.

Berbicara tentang Pemerintahan sekarang, Oyong mengatakan banyak yang patut diapresiasikan, seperti pembangunan Pusat Pemerintahan, pemberdayaan petani dan nelayan serta keberhasilannya pembangunan Aceh Timur dibidang lainnya.

“Program Pemerintah sekarang patut diberi jempol, hanya saja kelemahannya seperti yang saya katakan di atas, yakni kurangnya pengawasan dan pendampingan dari dinas terkait, sehingga tingkat keberhasilan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil,”akunya.

Ia meyakini kalau PNS dan pegawai non-PNS di Kabupaten Aceh Timur semuanya menetap di sini, pasti kemajuan dan pertumbuhan ekonomi Aceh Timur akan lebih cepat.

“Transaksi jual beli juga akan meningkat,”ujarnya. (mc/ism)