Berita Jakarta – Kamis (26/4/2018) valuasi rupiah terhadap dollar AS kian melemah pada perdagangan. Tekanan terhadap mata uang Garuda meningkat di tengah antisipasi pelaku pasar terhadap rilis data-data ekonomi Amerika Serikat pada pekan depan.

Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,05% ke posisi Rp 13.928 per dollar AS. Kurs tengah Bank Indonesia (BI) juga mencatat, rupiah terdepresiasi 42 poin atau setara 0,30% menjadi Rp 13.930 per dollar AS.

Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong mengungkapkan, pada dasarnya penguatan dollar AS dalam beberapa waktu terakhir disokong oleh solidnya fundamental ekonomi di negara tersebut. Terlebih lagi, pertumbuhan ekonomi AS telah mencapai level 2,3% pada tahun lalu. Inflasi tahunan AS pun telah menyentuh level 2% pada tahun ini.

Di samping itu, data-data ekonomi AS yang dirilis belakangan ini terus menunjukan hasil yang positif. Seperti data tingkat pengangguran yang berada di level 4,1% untuk bulan Maret. “Tingkat pengangguran yang terus berkurang mencerminkan adanya perbaikan ekonomi AS,” katanya, hari ini.

Hasil positif dari sejumlah data ekonomi AS menjadi pemicu meningkatnya ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate yang lebih agresif pada tahun ini. Imbasnya, imbal hasil US Treasury bergerak naik sehingga memperkuat posisi dollar AS di hadapan mata uang global, termasuk rupiah.

Kata Lukman, rupiah masih berpotensi melemah mengingat para pelaku pasar tengah menanti sejumlah data ekonomi penting AS mulai pekan depan, seperti data non farm payroll dan tingkat pengangguran AS bulan April. Selain itu, pekan depan juga ada agenda FOMC yang akan membahas suku bunga acuan AS.

“Arah rupiah masih akan dipengaruhi faktor eksternal di tengah minimnya sentimen domestik,” katanya.

Lukman memprediksi, hari ini, rupiah akan bergulir di kisaran Rp 13.925-Rp 13.950 per dollar AS.