Home / News

Rabu, 16 Desember 2020 - 23:23 WIB

Mengenal Saham Syariah dan Bertransaksi Saham yang Syariah

makobar.com – Perkembangan industri pasar modal belakangan ini sangat pesat. Bahkan DSN-MUI juga turut membantu perkembangan industri pasar modal dengan membuat klasifikasi efek-efek yang masuk dalam kategori syariah.

Meskipun sangat membantu investor dalam memilih produk-produk efek syariah, namun bukan berarti masyarakat lantas bisa menyimpulkan bahwa transaksi tersebut bisa dikategorikan syariah.

Dan memang efek syariah yang dibuat oleh MUI mampu mengklasifikasikan produk efek yang syariah contohnya JII (Jakarta Islamic Index). Akan tetapi investor tidak memahami bagaimana cara bertransaksi sesuai dengan cara yang syariah. Dengan membeli efek syariah, investor juga harus memahami bagaimana bertransaksi yang benar.

Ilustrasinya begini. Misalkan ada seorang pedagang mie instan. Biasa menjual mie instan dengan harga 2000 per bungkus. Namun disaat terjadi bencana katakanlah gempa bumi. Lantas si pedagang tadi membeli semua mie instan di wilayahnya dengan harga 3000 per bungkus. Sampai pada suatu titik dimana hanya dia yang memiliki mie instan tersebut.

Dia membeli mie instan tersebut dengan tujuan agar dia bisa memonopoli harga. Karena disaat terjadi bencana, masyarakat kerap hanya membeli mie instan sebagai menu makanannya. Setelah dia mendapatkan semua mie instan di wilayahnya. Maka diapun lantas menjualnya di harga 10 ribu per bungkus.

Nah memang pada dasarnya yang dijual oleh si pedagang tadi mie instannya adalah barang halal. Tetapi cara dia mendapatkan keuntungan dengan berjualan seperti itu tidaklah bisa dibenarkan. Terlebih di tengah kondisi masyarakat yang tengah tertimpa bencana. Sehingga halal bukan hanya bicara mengenai suatu barang saja, namun halal juga berbicara mengenai cara disini.

Baca Juga  Pemkab Tapteng Ikuti Festival Jalur Rempah Kemendikbud

Nah di pasar modal, membeli saham syariah tentulah sangat mudah. Produk saham syariahnya ada banyak. Tetapi cara kita dalam membeli juga harus diperhatikan. Karena pengawasan cara membeli saham yang syariah itu tidak terlepas dari diri kita sendiri. Dan tentunya sangat bergantung kepada kemampuan kita dalam memahami teknik bertransaksi secara syariah.

Sebagai contoh, seorang investor membeli saham Mie Instan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang terdaftar Jakarta Islamic Index (JII). Pada saat dia membeli saham tersebut, dia sudah melakukan kajian terkait dengan prosfek bisnis INDF kedepan.  Berdasarkan analisa laporan keuangan atau fundamental.

Nah cara seperti ini bisa dibenarkan. Kalau tidak memiliki kemampuan dalam melakukan analisa tersebut, investor juga bisa mendapatkan riset dari perusahaan sekuritas atau dari analis lainnya. Nah, bagaimana salah satu contoh membeli saham syariah namun caranya justru terbilang bertentangan dengan prinsip syariah?.

Misal, ada seorang investor dengan uang banyak melakukan pembelian saham INDF. Dia senagaja membuat riset palsu terkait dengan kondisi perusahaan. Dia menyatakan bahwa kondisi fundamental perusahaan dalam kondisi saat baik. Dan diperkirakan harga sahamnya bisa naik sampai 20% dalam kurun waktu 1 bulan yang akan datang.

Nah saat riset tadi disebarluaskan maka banyak investor yang percaya. Dan disaat yang bersamaan si oknum investor tadi juga melakukan pembalian saham dalam jumlah yang sangat besar. Yang membuat harga saham INDF mengalami kenaikan.

Baca Juga  Prakiraan Cuaca Pagi Cerah dan Malam Hujan Ringan

Dan pada saat naik, investor lainnya mengikuti dengan membeli saham INDF tersebut. Nah disaat saham INDF tadi sudah naik seperti yang diharapkan oleh si oknum. Maka diapun menjual sahamnya dan mendapatkan keuntungan seperti yang dia harapkan di awal. Nah praktek seperti ini adalah praktek menggoreng saham.

Jelas praktek seperti ini bertentangan dengan prinsip syariah. Sekalipun saham yang dibeli adalah saham yang masuk dalam kategori syariah. Praktek seperti ini dikenal dengan istilah bardarmologi. Artinya memang ada Bandar yang menggerakan harga saham. Padahal istilah Bandar ini lebih sering didengar di meja judi. Tapi sayang praktek judi juga bisa melekat dimanapun, tergantung orangnya.

Jangankan di pasar saham, judi juga bisa terjadi saat kita menonton sepak bola. Tontonan sepakbola tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Tetapi saat kita bertaruh, atau memasang taruhan. Nah disitu muncullah judi. Atau biasa dikenal dengan istilah judi bola, dan ada bandarnya juga.

Jadi, bagi investor yang lebih mengedepankan aspek syariah dalam setiap transaksi. Sebaiknya memperdalam ilmu tentang syariah khususnya ekonomi syariah. Produk yang halal belum tentu bisa disimpulkan bahwa kita sudah benar dalam bertransaksi secara halal. Halal harus mencakup semua aspek, dan bukan hanya melulu bicara tentang produknya saja.

Muhammad Hadi
Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Sumatera Utara

Share :

Baca Juga

Rusia Luncurkan Roket Pemantau Iklim Kutub Utara

Internasional

Rusia Luncurkan Roket Pemantau Iklim Kutub Utara
Gubsu Sudah 2 Kali Tegur Bobby, Pemko Medan Buka Suara

News

Gubsu dan Menantu Jokowi tak Harmonis?
Voila.id Destinasi Belanja Luxury Fashion Aman, Nyaman dan Terlengkap di Indonesia

Ekonomi

Voila.id Destinasi Belanja Luxury Fashion Aman, Nyaman dan Terlengkap di Indonesia

News

Pengurus BKMT Kecamatan se-Kota Medan Nyatakan Musdalub Tidak Sah dan Tolak Pengurus Baru
Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadan 1442 H Digelar 12 April 2021

News

Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadan 1442 H Digelar 12 April 2021
Pernah Kerahkan Tank Tutup ‘Kampung Kubur’, Edy Rahmayadi Ajak Semua Pihak Peduli Cegah Narkoba

News

Pernah Kerahkan Tank Tutup ‘Kampung Kubur’, Edy Rahmayadi Ajak Semua Pihak Peduli Cegah Narkoba

News

Sah, DPRD Medan Usulkan Bobby – Aulia Dilantik

Ekonomi

Kurs Rupiah akan Dipengaruhi Data Inflasi