Balige – Bupati Toba Samosir (Tobasa) Darwin Siagian mendapat hujatan warganya di media sosial (Medsos). Hal itu terjadi diduga karena tidak puas akan penyelenggaraan pemerintahan di bawah kepemimpinannya, ditambah sulitnya menyampaikan aspirasi secara langsung.

“Perlu dikaji, kenapa banyak hujatan kepada bupati saat ini. Kenapa disampaikan melalui media sosial, Facebook. Inilah kemungkinan salah satu cara penyampaian yang menurut mereka adalah yang terbaik, sebab untuk komunikasi langsung kepada bupati cukup sulit,” ujar Pamahar Pardosi, Jumat (2/2/2018), di rumah dinas bupati pada acara coffee morning bupati dan Wabub dengan warganya.

Dia mengatakan, sekalipun menurut hukum atau aturan bahwa penyampain melalui informasi media sosial apalagi urusan hujat menghujat adalah salah, namun kemungkinan langkah itu adalah untuk memuaskan benaknya yang ingin bicara langsung dengan bupati.

“Kalau sudah memuncak rasa ketidakpuasan, khususnya melihat kinerja bupati dan perangkatnya, maka mau tak mau kemungkinan harus ditempuh cara itu,” sebutnya seraya berharap aspirasi warga harusnya dapat diterima secara arif dan bijaksana, tidak emosional.

Dalam kesempatan itu, Pamahar Pardosi sempat mengutarakan kekecewaannya, karena menerima undangan untuk hadir di coffee morning tersebut lewat loket bus, bukan melalui pihak protokoler bupati.

“Saya yakin, tulisan-tulisan di medsos itu tujuannya untuk memperbaiki, bukan semata menghina dan juga hujatan atau cacian itu semua dikarenakan masih ada rasa kepeduliannya terhadap daerah ini, ” terangnya.

Senada disampaikan Sandro Simanjuntak. Karena informasi di lingkungan pemeintah Toba Samosir terkesan tertutup, hendaknya Kepala Dinas Kominfo dan Kabag Humas dan Protokoler secepatnya dievaluasi, karena tidak memberikan perlindungan kepada pimpinannya yaitu bupati dan wakil bupati.

“Banyak cacian dan banyak hinaan juga hujatan kepada bupati, tetapi sejauh pengamatan kami kedua institusi itu belum pernah memberikan klarifikasi, ” ucapnya.(mc/min)