Penduduk Waiapi melihat sebuah pesawat terbang di langit di Amapa, Brasil pada 15 Oktober 2017. (AFP/Apu Gomes)

makobar.com – TERPAKU.Itulah yang dirasakan oleh suku pedalaman Amazon di Brasil saat memandang ke langit. “Pesawat terbang,” kata seorang warga suku.

Di hutan hujan Amazon, nampak sebuah burung besi terbang di atas permukiman Waiapi di Manilha, yang memikat penduduk desa.

Mereka hanya mengenakan kain berwarna merah terang yang meliliti bagian bawah perut.

Kulit mereka juga dilumuri cat merah kehitaman yang terbuat dari biji urucum dan buah jenipapo.

“Apakah kalian berpikir pesawat itu datang untuk melihat kita?” tanya Aka’upotye Waiapi, anak tertua dari kepala suku, seperti dilansir dari AFP, Jumat (27/10/2017).

Setelah menghilangnya pesawat itu dari penglihatan mereka, perasaan tidak nyaman masih menyelimuti para penduduk.

Waiapi pernah melakukan kontak dengan pemerintah Brasil pada 1970-an.

Namun, kondisi mereka saat ini masih seperti nenek moyang mereka sebelum kedatangan orang Eropa yang tiba di Amerika Selatan, lima abad lalu.

Mereka nampak hidup selaras di hutan hujan terbesar di planet ini. Namun, mereka tetap saja tak bisa menghindar dari dunia luar yang semakin dekat.

Melihat secara sepintas, kehidupan di Manilha dan permukiman mungil lainnya di desa, terlihat rumah-rumah bersudut yang terbuka tampak berasal dari zaman dulu.

Para pria berburu dan memancing. Perempuan terlihat memanen singkong, mereka tak mengenakan apapun untuk menutupi dadanya.

Perempuan juga menyalakan api dan melakukan berbagai macam hal lainnya.

Sementara, anak-anak muda mengoleskan pewarna alami yang dipercaya melindungi tubuh dan jiwa mereka.

Kalian tidak akan menemukan toko di sini. Uang? Tak juga diperlukan.

Tidak seperti suku pedalaman lainnya yang menerima kunjungan turis, Waiapi jarang menerima kunjungan orang luar, bahkan jurnalis.

Seorang anggota suku memiliki sebuah ponsel di saku cawatnya. Kendati tidak ada sinyal, dia kerap menggunakan ponsel itu untuk memotret.

Sementara, seorang lainnya memiliki mobil satu-satunya di Manilha, walaupun kehabisan bensin.

Dari bawah atap jerami, terdengar suara radio VHF bertenaga surya, untuk menghubungkan desa-desa Waiapi yang tersebar di hutan.

Ketika Manilha memberikan kesan seperti tersesat di jantung hutan hujan, semua orang tahu bahwa industrialisasi abad ke-21 tak bisa dihindari.

Padahal, hanya perlu dua jam berkendara ke arah selatan untuk menuju kota sepi, Pedra Branca. (mc/min)