Berita Medan – Kehidupan umat Islam yang ada di Indonesia dengan yang ada di dataran Eropa, sungguh sangat berbeda jauh. Posisi minoritas yang disandang kalangan muslim di berbagai Negara Eropa membutuhkan kesabaran dalam memberikan pemahaman tentang Islam yang sesungguhnya,Islam yang cinta damai dan rahmatan lil alamin.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh umat muslim di sana adalah sikap rasisme yang justru ada di banyak negara maju, yang secara langsung menjadi faktor penghambat progress sosial dan ekonomi umat Islam.

Pandangan tersebut dilontarkan oleh Siti Soraya Iskandar Batubara, salah seorang anggotavDewan Senat dan Pembina Huffazh Center Indonesia (HCI), dalam orasi ilmiah yang disampaikannya di depan sejumlah kalangan muslim ada wisuda hafizh dan hafizhah HCI di Tiara Convention Center.

Orasi ilmiahnya bertajuk “Menyimak Kehidupan Masyarakat Muslim di Eropa”. Untuk mengimbangi efek rasisme, lanjut Siti, salah satu strategi yang bisa dipraktekkan adalah dengan memperluas persahabatan dan lebih mengenali kultur dan psikologi masyarakat setempat serta mau berintegrasi dalam berbagai komunitas positif yang tak bertentangan dengan agama dan budaya sendiri. Ajaran-ajaran Islam harus diperkenalkan secara menyeluruh kepada masyarakat Eropa.

Siti Soraya yang baru saja menyelesaikan pendidikannya dari The London School of Economics (LSE), memiliki cukup banyak pengalaman hidup berbaur sebagai kalangan minoritas bersama umat muslim lainnya di belahan bumi Eropa.

“Hidup sebagai kalangan minoritas tentu berbeda dengan menjadi mayoritas seperti di Indonesia. Umat Islam seringkali terekspos oleh kecurigaan-kecurigaan rasisme yang didasarkan pemahaman salah tentang Islam. Bicara Islam di masyarakat Eropa seringkali merujuk pada Islam sebagai teroris. Akibatnya ruang gerak dan bertumbuh umat muslim menjadi tidak berkembang optimal,” kata Siti prihatin.

Siti merujuk sejumlah penelitian yang memperkirakan bahwa Islam akan menjadi agama yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan paling pesat di Eropa. Ia mengutip data yang dikeluarkan Pew Research Center yang mengemukakan bahwa peningkatan jumlah penduduk muslim sebanyak 6 % pada 2010 akan menjadi 10 % di tahun 2050. Faktor utama peningkatan tersebut bukan dari kenaikan jumlah mualaf, melainkan tingginya tingkat imigrasi dan kelahiran di kalangan keluarga muslim yang melebihi umat beragama lainnya.

Menurut Siti, kehadiran Sadiq Khan yang terpilih sebagai Walikota London pada 2016 silam merupakan sebuah fenomena menarik. Terpilihnya Sadiq Khan merupakan sinyal positif bahwa masyarakat London tidak mempersoalkan agamanya, melainkan sebagai individu yang memiliki potensi besar sebagai pemimpin dan memiliki pemahaman yang mendalam terhadap masalah-masalah sosial dan ekonomi, serta memiliki prestasi dan pengaruh di dunia global.

Munculnya para pemimpin Islam di Eropa harus mampu menjadi role model bahwa pemimpin Islam memiliki track record yang baik dan berpotensi besar dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan dunia.

Ditambahkan Siti, meningkatnya nilai investasi kalangan pengusaha muslim di Eropa juga menjadi indikasi bahwa umat Islam dipercaya untuk berbisnis dan bahkan memiliki hak penguasaan atas sejumlah besar tanah di daratan Eropa. Contohnya apa yang diinvestasikan oleh Canary Wharf Group yang memiliki tanah lebih luas dari City of London dan Ratu Inggris sekalipun.

Kepercayaan tersebut merupakan sinyal kemakmuran yang bisa diraih oleh kalangan muslim di Eropa. Akan tetapi, lanjut Siti, realita itu tak lantas mengesampingkan fakta bahwa kemakmuran tak serta merta merata di kalangan muslim Eropa. Menurut data yang dilansir oleh The Moslem Council in Britain, 46 % umat Islam di Britania Raya masih tinggal di kawasan-kawasan miskin dan tidak aktif secara ekonomi alias pengangguran.

Kesulitan mencari pekerjaan umumnya disebabkan tingkat pendidikan yang tidak memadai dan miskonsepsi terkait aksi terorisme yang dilekatkan kepada umat Islam. Dengan berbagai kompleksitas persoalan itu, maka Siti berharap kepada para pemimpin dan pengusaha muslim yang telah memiliki kekuatan di percaturan politik dan ekonomi Eropa, untuk dapat membantu menepis stigma negative yang dialamatkan kepada kalangan muslim, sehingga memudahkan mereka dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

Citra positif Islam harus terus dibangun melalui langkah-langkah efektif dan nyata memperkenalkan Islam sebagai agama yang cinta damai. Pendidikan bagi anak-anak muda Islam harus bisa diakses dengan baik, sehingga tercipta generasi muslim yang lebih cerdas dan maju. Jika itu mampu diwujudkan maka kemakmuran yang merata di kalangan umat Islam akan mudah tercapai.