Latihan Perang NATO
Pasukan marinir AS bersenjata lengkap melakukan operasi pendaratan saat latihan militer Baltops 2018 di Laut Baltik, Lithuania (4/6). (AP/Mindaugas Kulbis)

Berita Internasional, makobar.com  – Diikuti 50000 Pasukan, NATO menggelar latihan militer terbesar, sejak berakhirnya Perang Dingin.

Latihan ini digelar pada Kamis, 25 Oktober, di Norwegia. Jerman mengirim kontingen militer terbanyak kedua, dalam rangka mempersiapkan diri untuk memimpin pasukan gerak cepat NATO.

Dilansir dari laman Liputan6, Latihan perang “Trident Juncture” melibatkan sekitar 50.000 pasukan, 10.000 kendaraan, 250 pesawat dan 65 kapal perang dari semua 29 anggota aliansi, ditambah Swedia dan Finlandia. Manuver ini berlangsung selama dua minggu di udara dan laut di seluruh wilayah Norwegia.

Tujuan dari latihan ini adalah untuk menguji dan melatih “Very High Readiness Joint Task Force” (VHRJTF) NATO, yang nantinya akan berada di bawah komando Jerman.

Pasukan gabungan gerak cepat ini dirancang untuk mempelopori pertahanan negara anggota aliansi yang menghadapi serangan dari luar.

VHRJTF NATO dirancang aliansi pertahanan Atlantik Utara itu pada tahun 2014, setelah aneksasi Rusia di Semenanjung Krimea.

Rusia Protes Latihan Gabungan NATO

Rusia, yang berbatasan dengan Norwegia, diundang NATO untuk memantau latihan perang itu. Namun Kementerian Pertahanan Rusia mengecam manuver besar-besaran tersebut,

“Aktivitas militer NATO dekat perbatasan kami telah mencapai tingkat tertinggi sejak masa Perang Dingin,” kata Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, seperti dikutip dari DW, Minggu 28 Oktober 2018. Dia menambahkan, Trident Juncture adalah simulasi tindakan militer yang ofensif.

Wakil pemimpin Partai Kiri “Die Linke” di parlemen Jerman, Dietmar Bartsch, mengeritik latihan gabungan itu sebagai hal yang menggelikan, berbahaya, dan provokatif terhadap Rusia.

“Ada ancaman perang yang lebih besar. Presiden Amerika Serikat mengancam lomba persenjataan nuklir terhadap Rusia dan China, serta membatalkan perjanjian perlucutan senjata nuklir,” kata Bartsch kepada harian Jerman Neue Osnabrücker Zeitung. (mc/min/L6)