Berita Medan, makobar – Kasus dugaan penganiayaan sedarah dengan terdakwa bos Diskotik LG, Lisam (45) dan Lienawati (51) kembali berlanjut di Pengadilan Negeri Medan, Selasa (8/10/2019).

Dalam persidangan beragendakan keterangan saksi korban Gunawan yang tidak lain adalah adik bungsu para terdakwa.

Sebelum memberikan keterangan, pada persidangan yang dipimpin Hakim Ketua Erintuah Damanik kembali menasihati para saudara tersebut untuk berdamai.

“Kau itu lihat wajahmu sangat mirip dengan terdakwa Lisam ini hanya beda kacamata saja kalian. Kalian kan abang beradik satu darah bisalah, seharusnya kalian berdamai, malu loo ya,” terangnya kepada korban Gunawan.

Selanjutnya, Erintuah juga menyebutkan bahwa kebanggan dari seorang ibu bukan dari cantik wajahnya tapi dari belakang.

“Tahu kalian seorang ibu itu cantik bukan dilihat dari mukanya. Tapi dari belakang yang mengartikan bahwa setelah orang tua meninggal, kalian lah anak-anaknya yang buat cantik ketika berdamai bukan berantam seperti ini,” cetusnya.

Langsung saja Erintuah mengajak para abang adik yang berkonflik tersebut untuk mengusakan berdamai. “Kau juga sebagai bungsu bisa membuka ruang untuk berdamai. Begitupun kalian terdakwa dipikirkan ituya,” cetusnya.

Dalam keterangannya Gunawan menyebutkan dirinya menjadi korban pengeroyokan Lisam, setelah berusaha memisahkan terdakwa Lienawati dan korban Ramly Hati.

“Saya ditangkap dari belakang dan dipiting oleh Lisam. Karna dipiting itu, saya meronta. Kemudian dia memukul dada saya yang mulia,” ungkap Gunawan.

Sementara, Lisam saat dikonfrontir membantah keterangan adiknya tersebut. Dan menyebut tidak melakukan pemukulan, hanya berusaha melerai pertikaian tersebut.

“Tidak ada saya pukul, saya hanya memegang dada Gunawan saja yang mulia,” tuturnya.

Usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan.

Dikutip dari dakwaan JPU Rambo Sinurat, pada tanggal 7 April 2019 sekira pukul 11.15 WIB, kedua terdakwa pergi kerumah Ibu Lienawati di Jalan Gatot Subroto No 75 Kelurahan Petisah, Kecamatan Medan Petisah, untuk melakukan sembahyang.

Pertikaian antar keluarga ini dimulai, manakala terjadi silang pendapat antara terdakwa Lisam dengan saksi korban Ramly Hati. Pertengkaran itu kemudian didengar oleh saksi korban, Gunawan yang kemudian naik ke lantai 4. Disitu, terjadi pertengkaran mulut antara kedua terdakwa dengan saksi korban Gunanwan.

Dari pertengkaran mulut itu, terdakwa Lienawati langsung menghentakkan kedua tangannya ke dada Gunawan. Kemudian, saksi Ramly Hati berusaha memisahkan pertengkaran keduanya. Namun, situasi semakin memanas dimana terdakwa Lienawati mendorong Ramly Hati dan meludahinya.

Tak puas sampai disitu, Lienawati mengantukkan kepala dan mencakar tangan Ramly Hati. Mengetahaui hal itu, Gunawan ingin melerai namun dihalangi oleh terdakwa Lisam, dengan memiting leher Gunawan.

Lantaran tidak senang, korban Ramly Hati dan Gunawan melaporkan kasus penganiayaan tersebut ke Polrestabes Medan. Kedua terdakwa diancam dengan Pasal 170 ayat (1) dan Pasal 351 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP.

(mc/mim)