Home / News

Senin, 18 Januari 2021 - 18:00 WIB

BMKG Sebut Ada Fenomena yang Cukup Aneh dan Tidak Lazim Pada Gempa Majene

Bangunan rubuh gempa majene

Bangunan rubuh gempa majene

makobar.com – Gempa Majene yang menewaskan puluhan orang di Sulawesi Barat pada Sabtu (16/1/2021) yang lalu, memiliki keanehan dari mulai frekuensi gempa dan titik gempa yang dangkal.

 

Dilansir tribunnewsmaker.com. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) menilai gempa Majene masih miskin gempa susulan, tetapi sulit diprediksi.

 

Seperti diketahui, Sabtu (16/1/2021) pagi pukul 06.32 WIB, wilayah Majene dan Mamuju Sulawesi Barat kembali diguncang gempa susulan dengan magnitudo M 4,8.

 

Berdasarkan hasil analisis BMKG, episenter gempa bumi ini terletak di darat pada jarak 29 kilometer arah Tenggara Kota Mamuju.

 

Dijelaskan Ketua Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono bahwa pusat gempa ini relatif sedikit bergeser ke utara dari kluster seismisitas yang sudah terpetakan.

 

“Gempa ini adalah gempa ke-32 yang terjadi sejak terjadinya Gempa Pembuka dengan magnitudo 5,9 pada Kamis 14 Januari 2021 siang hari pukul 13.35 WIB,” kata Daryono kepada Kompas.com, Sabtu (16/1/2021).

Lokasi gempa Majene Sulawesi Barat magnitudo 6,2, Jumat (15/1/2021) (BMKG)

Lokasi gempa Majene Sulawesi Barat magnitudo 6,2, Jumat (15/1/2021) (BMKG)

Akan tetapi gempa ini menjadi gempa ke-23 pasca Gempa Utama dengan magnitudo 6,2 pada Jumat 15 Januari 2021 pagi dinihari pukul 01.28 WIB.

Baca Juga  Tilang Elektronik Dirlantas Polda Metro Jaya Berlaku Hari Ini

 

Berikut ada 4 fakta terkait gempa Majene, Sulawesi Barat:

 

1. Miskin gempa dan fenomena aneh

 

Daryono berkata, berdasar rekaman aktivitas gempa Majene, tampak produktivitas gempa susulan nya sangat rendah.

 

Padahal stasiun seismik BMKG sudah cukup baik sebarannya di daerah tersebut.

 

Sehingga, gempa-gempa kecil pun akan dapat terekam dengan baik.

 

“Namun hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa gempa Majene ini memang miskin gempa susulan (lack of aftershocks).

 

Fenomena ini agak aneh dan kurang lazim,” ujarnya.

 

2. Gempa kerak dangkal

 

Gempa yang terjadi di Majene ini termasuk kategori gempa kuat di kerak dangkal atau shallow crustal earthquake, dengan magnitudo 6,2 mestinya diikuti banyak aktivitas gempa susulan.

 

Akan tetapi hasil monitoring BMKG menunjukkan hingga hari kedua pasca terjadinya Gempa Utama magnitudo 6,2 hingga saat ini baru terjadi 23 kali gempa susulan.

Warga mengamati bangunan RS Mitra Manakarra yang roboh pascagempa bumi, di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021).(Antara Foto)

Warga mengamati bangunan RS Mitra Manakarra yang roboh pascagempa bumi, di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021).(Antara Foto)

3. Kekuatan gempa capai 100 gempa susulan

 

Daryono mengatakan, jika kita bandingkan dengan kejadian gempa lain sebelumnya dengan kekuatan yang hampir sama.

Baca Juga  Ijeck Bilang Akan Jaring 2 Juta Kader Golkar untuk 2024

 

“Biasanya pada hari kedua sudah terjadi gempa susulan sangat banyak, bahkan sudah dapat mencapai jumlah sekitar 100 gempa susulan,” kata dia.

 

4. Perilaku gempa sulit diprediksi

 

Daryono juga menaruh banyak pertanyaan terkait gempa yang terjadi di Majene dalam tiga hari ini.

 

Pertanyaan yang masih mengganggu Daryono adalah apakah fenomena rendahnya produksi aftershocks atau gempa susulan di Majene ini disebabkan karena telah terjadi proses disipasi, di mana medan tegangan di zona gempa sudah habis sehingga kondisi tektonik kemudian menjadi stabil dan kembali normal.

 

Berikutnya adalah pertanyaan kebalikan dari pertanyaan pertama yaitu,dengan minimnya aktivitas gempa susulan ini menandakan masih tersimpannya medan tegangan yang belum rilis, sehingga masih memungkinkn terjadinya gempa signifikan nanti.

 

“Fenomena ini membuat kita menaruh curiga, sehingga lebih baik kita patut waspada,” ucap dia.

 

“Inilah perilaku gempa, sulit diprediksi dan menyimpan banyak ketidakpastian.

 

Sehingga kita baru dapat mengkajinya secara spasial dan temporal, akan tetapi untuk mengetahui besarnya medan tegangan riil dan perubahannya pada kulit bumi masih sulit dilakukan,” imbuhnya. (mc/yud) 

Share :

Baca Juga

80 Tahun OCBC NISP Melaju Jauh Untuk Indonesia

News

80 Tahun OCBC NISP Melaju Jauh Untuk Indonesia

News

Wali Kota Medan bersama Gubernur dan Forkopimda Sumut Bagikan Masker dan Hand sanitizer di Pasar
Komjen pol agus andrianto

News

Ini Profil Komjen Agus Andrianto, Kandidat Kapolri Yang Santer Namanya
Komjen pol listyo Sigit Prabowo

News

Sejumlah Fakta Munculnya Nama Listyo Sigit Sebagi Calon Kapolri Versi Presiden
Peresmian gedung Divhumas polri secara virtual yang di hadiri komjen pol Agus Andrianto

News

Kabaharkam Polri Hadiri Peresmian Gedung Divhumas Secara Virtual yang Dipimpin Kapolri
Praktisi Hukum Julheri Sinaga Komentari Temuan Sajam dan Ponsel Di Lapas Kelas IIB Lubukpakam 

Hukum

Praktisi Hukum Julheri Sinaga Komentari Temuan Sajam dan Ponsel Di Lapas Kelas IIB Lubukpakam 
Pangeran Arab Saudi Beli Klub Divisi Dua Prancis dengan Harga Murah

News

Pangeran Arab Saudi Beli Klub Divisi Dua Prancis dengan Harga Murah, Cuma Rp47,7 Miliar
Persebaya Ditinggal Pemain Bintang Jelang Piala Menpora

News

Persebaya Ditinggal Pemain Bintang Jelang Piala Menpora