Berita Samosir – Terkait kematian ikan di perairan Danau Toba ditanggapi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian Kabupaten Samosir, Jhunellis boru Sinaga, menaksir kerugian akibat matinya jutaan ikan milik petani keramba di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, mencapai Rp 4 miliar.

Menurut Jhunellis kematian ikan di perairan Danau Toba tersebut mencapai 180 ton. Kalau dilihat dari seluruh jumlah sekitar 140 keramba. Jenis ikan mujair dan ikan mas dengan ukuran yang memang sudah siap panen. Kerugian ditaksir sampai dengan Rp 4 miliar. Karena ini bukan satu, tetapi ada 21 pemilik keramba,” jelasnya.

Dia menjelaskan bahwa kematian jutaan ikan itu diduga bukan karena virus. Dugaan sementara menurutnya karena perubahan suhu dari dasar perairan ke permukaan sehingga ikan tidak maksimal mendapatkan oksigen.

“Jadi, kotoran di dasar itu atau limbah naik ke permukaan. Limbah yang dimaksud adalah sampah rumah tangga, hotel dan pestisida. Kalau sisa dari pakan tidak ada karena pelaku usaha di sini memakai pakan terapung, bukan jenis yang tenggelam,” paparnya.

Sementara itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir masih terus melakukan penelitian terhadap peristiwa matinya jutaan ikan di perairan Danau Toba. Penelitian itu dilakukan terhadap air, pakan dan ikan yang mati.

“Sejauh ini kami dari dinas pertanian mengimbau kepada para pelaku usaha perikanan terutama yang mengalami musibah kematian ikan, sementara jaring-jaring itu dijemur kembali,” imbau Jhunellis.

Seperti diketahui, jutaan ikan yang berada di dalam keramba itu terlihat mulai lemas sejak Senin (20/8) kemarin. Kemudian pada Selasa (21/8) para petani keramba memberikan oksigen kepada ikan-ikannya. Namun pada Rabu (22/8) pagi saat petani melihat keramba, ternyata semua ikan sudah mati dan mengapung di Danau Toba.[ana]