Berita Medan – Sama halnya dengan Podomoro, pembangunan megaproyek The Manhattan Mall dan Condominium di persimpangan Jalan Gatot Subroto-Jalan Gagak Hitam Medan, terus menjadi sorotan berbagai kalangan.

Selain terendus melakukan pelanggaran sejumlah izin, keberadaan bangunan pusat perbelanjaan dan areal condominium itu, turut dituding menjadi pemicu kesemrawutan lalu lintas. Situasi itu semakin diperburuk dengan sempitnya akses keluar masuk kendaraan menuju mal, hingga berdampak pada kemacetan.

Anggota DPRD Kota Medan Roby Barus pun secara tegas mengecam keberadaan bangunan yang dianggapnya hanya menimbulkan masalah baru bagi ibukota Sumatera Utara ini.

“Dimana pengawasan Pemko dalam hal penerbitan izin Manhanttan itu, kenapa pula tiba-tiba ada yang berani menyerobot seperti itu, tiba-tiba saja sudah jadi bangunan. Tak mungkin bisa keluar izin gitu,” kecamnya.

“Maka Pengawasan harus dilakukan, apalagi hal itu juga berguna menghindari bencana terulangnya seperti yang terjadi

pada bulan lalu, dimana lantai 37 gedung Manhattan runtuh dengan dalih salah komunikasi akibat radio panggil yang rusak. Alasan seperti itu tidak pantas diucapkan oleh pihak pengem- bang yang mengerjakan mega proyek,” sesal Roby.

Politisi PDI Perjuangan ini juga mensinyalir, Manhattan belum dilengkapi sejumlah izin yang wajib dipenuhinya, di antaranya Izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan lalulintas (Amdal Lalin) dari Kementerian Perhubungan.

Sama halnya dugaan pelanggaran Surat Izin Mendirikan Bangunan (SIMB) dari dinas terkait di jajaran Pemko Medan serta dugaan pelanggaran izin Keterangan Situasi Bangunan (KSB).

“Izin garis Sempadan Bangunan (GSB) dan pelanggaran roilen badan jalan di Jalan Gatot Subroto Gagak Hitam Medan patut dipertanyakan,” terangnya.

Roby mendesak Pemko melalui Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang (PKPPR) dan Satpol PP Kota Medan supaya mengawasi pembangunan agar tidak menyalahi ketentuan

Jika terbukti ada pelanggaran, kata Roby, sudah sepatutnya dilakukan tindakan tegas. Selama ini pembangunan gedung Manhattan terkesan luput dari pengawasan.

“Kita khawatir banyak penyimpangan yang terabaikan. Kita tidak setuju jika pembangunan berdampak buruk terhadap estetika kota Medan,” ujarnya.

Sama halnya izin Amdal Lalin, lanjut Roby, pihak terkait diminta untuk bertin- dak melalui kajian yang matang soal rekayasa lalu lintas.

Sebab melihat keberadaan bangunan terbukti berdampak kemacetan lalu lintas di Jalan Gatot Subroto dan Jalan Gagak Hitam. Kata Roby, jika memang sudah terbit, izin Amdal Lalinnya patut ditinjau ulang.

Mantan Ketua Komisi A ini menduga ada pelanggaran GSB sangat kental. Sama halnya pelanggaran roilen yang patut diselidiki.

“Jika terbukti melakukan pelanggaran izin diminta dinas terkait supaya menindak tegas,” tandasnya

Terpisah, anggota Komisi D DPRD Medan, Godfried Effendy Lubis juga mendesak Pemko Medan dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub) supaya segera merespon keluhan pengguna jalan. Terlebih, kenyamanan dan kelancaran di jalan raya, merupakan hak setiap warga.

“Dishub harus segera menyikapi serta mengevaluasi izin Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Lalulintas The Manhattan,” ungkapnya.

Politisi Gerindra ini menambahkan, Pemko Medan harus mengkaji ulang izin Amdal Lalin. Seharusnya, pemberian izin harus melalui pertimbangan dan kajian yang cukup matang. Sebab, posisi gedung mal dan apartemen yang persis di persimpangan sangat berpotensi menimbulkan macet.

“Sebelum ada pembangunan, daerah itu sudah rawan macet. Konon lagi tambah pembangunan mal yang pasti mengundang keramaian dan akses kendaraan keluar masuk ke jalan menjadi padat dan semakin macet total. Maka perlu dievaluasi Amdal Lalinnya,” tegasnya.

Lebih lanjut Godfried juga mengungkapkan indikasi pelanggaran roilen dalam pembangunan The Manhattan. Penyerobotan itu bisa terlihat secara kasatmata, karena tampak posisi bangunan terlalu maju ke badan jalan dan trotoar, baik yang menghadap ke Jalan Gatot Subroto maupun ke Jalan gagak Hitam.

“Padahal menurut peraturan, setidaknya mesti ada jarak 6 meter posisi bangunan paling pinggir ke bibir parit. Ini kan tidak, malah bangunan sudah berada di atas parit,” bebernya seraya menyebutkan akan memanggil pihak terkait untuk rapat dengar pendapat.(mc/alian)