Berita Medan – Keluarga terdakwa ‎kasus dugaan pencurian kendaraan bermotor, Fendri Marulitua Siregar dan Suparman Tanjung memprotes barang bukti disampaikan Jaksa penuntut umum (JPU), Rina Sari Sitepu‎ selama proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Medan.

Protes tersebut, hingga membuat keluarga terdakwa mengamuk di PN Medan, Rabu (14/2) sore. ‎Istri Fendri, Merrian Cristi Putri Hutagaol‎ mengatakan saat sidang pembacaan dakwaan oleh JPU, barang bukti ditunjukkan JPU dalam persidangan berupa celana dan helm.

Namun, Merrian mengungkapkan pada persidangan selanjutnya, JPU menunjukan barang bukti berupa kunci T. Sedangkan, saat dilakukan penangkapan oleh Polsekta Medan Baru dan pengeledahan di rumah kedua terdakwa di Medan, 28 Juli 2017, lalu tidak ada ditemukan pihak kepolisian.

“Disini kita keberatan dengan barang bukti kunci T yang disampaikan JPU. Kenapa tidak dari awal sidang barang bukti kunci T ditunjuki oleh Jaksa itu. Saya sudah memprotes itu, tapi gak ditanggapi jaksa prempuan itu,” ungkap Merrian dengan nada teriak kepada wartawan di PN Medan.

Merrian menjelaskan sidang sebelumnya, tepatnya sidang kedua. Majelis hakim diketuai oleh Javerson Si‎naga mengatakan bila tidak cukup bukti kenapa disidangkan. Istri terdakwa menilai sidang tersebut dipaksakan oleh pihak kepolisian dan jaksa untuk diadili.

“Hakim sudah bilang, kalau tidak ada buktinya, pulang aja terdakwa. Memang suami saya residivis, tapi suami saya tidak melakukan pencurian sepeda motor itu. Saat korban dihadiri dalam persidangan, korban tidak mengakui suami saya selaku pencuri sepeda motor,” jelas wanita mengakui bekerja sebagai juru parkir.

Pada sidang kemarin, dengan agenda pembacaan nota pembelaan (pledoi). Terdakwa Fendri membantah sebagai terdakwa pencurian sepeda motor. Termasuk sepeda motor dijadikan sebagai barang bukti tidak ada dan tunjukan oleh JPU.

Atas tundingan ranmor tersebut, kedua terdakwa harus dihadiahkan timah panas dikedua kakinya dan harus mengakui perbuatannya. Dengan minim pemahaman hukum, keluarga dan terdakwa meminta keadilan kepada majelis hakim seadil-adilnya.

“Saya seorang residivis apakah orang seperti saya tidak boleh bertobat?. Sementara saya sudah bekerja membantu istri saya sebagai jukir. Sekarang saya harus mengakui perbuatan yang tidak saya lakukan. Karena, penyiksaan dan perlakuan polisi yang tela menembak kaki kanan dan kaki saya,” ungkap Fendri kepada wartawan di PN Medan.

Atas perbuatannya, yang dibantahnya itu. Fendri dituntut oleh JPU 5 tahun penjara.”Saya mohon dengan hormat kepada Jaksa dan hakim untuk mempertimbangkan tuntutan ini. Saya mohon ibu Jaksa dan pak hakim. Karenan derita yan saya alami ini telah terpisah dengan istri dan 3 orang anak saya yang masih kecil,” tutur terdakwa dengan nada sedih.

“Hukuman ditembak, dipenjara yang saya alami dan itu bukan perbuatan saya, sekali lagi saya tidak melakukan pencurian itu,” ucap warga Jalan Sei Mencirim, Medan.

Sementara itu, JPU Rina Sari Sitepu‎ saat dikonfirmasi kasus ini, enggan memberikan tanggapan dan memilih berlalu meninggal gedung PN Medan. “Nanti yah,” ucap sembari berlalu.(mc/min)