Medan – Salah satu alat musik tiup milik orang Batak Toba yang semakin langka adalah sordam. Sordam (long flute) adalah salah satu alat musik Batak Toba yang terbuat dari bambu, yang dimainkan dengan cara meniup dari ujungnya (up blown flute) dengan meletakkan bibir pada ujung bambu secara diagonal.

Sordam memiliki enam lubang nada, yakni, di bagian atas dan satu di bagian bawah, sedangkan lubang tiupnya merupakan ujung dari bambu tersebut.

Keunikan dari sordam karena suara dan nadanya yang khas. Suaranya yang cenderung “berat” diakibatkan karena teknik tiupnya yang “diseret-seret”. Suaranya itu mengesankan kesedihan dan ratapan. Tidak seperti seruling yang tegas dan lantang. Sedangkan dari sisi nadanya, sordam tidak bernada diatonis sebagaimana standar tangga nada internasional.

Namun cenderung pentatonis lazimnya alat musik tradisi Batak Toba yang lain. Itupula yang menjadikan sordam dianggap sebagai alat musik yang tidak sembarang dimainkan. Dalam tradisi bermusik orang Batak Toba, sordam tidak ikut dimainkan sebagai bagian dari instrumen. Baik dalam gondang sabangunan, gondang hasapi dan uning-uningan.

Sordam dimainkan secara khusus yang bersifat supranatural. Pemainnya pun biasanya adalah orang “pintar”. Karenanya sering pula dikait-kaitkan dengan dunia klenik. Antara lain, suara yang dihasilkan dari sordam itu bisa memanggil arwah orang yang sudah meninggal. Termasuk arwah nenek moyang.

“Sampai kini setiap kali ada orang yang marsordam, dianggap sedang melakukan ritual. Pendapat itu memang tidak seutuhnya salah. Dulunya sordam memang ditiup untuk memanggil arwah. Misalnya sewaktu peristiwa kapal tenggelam di Danau Toba tahun 90-an lalu, mayat-mayat korban tidak ditemukan. Padahal lokasi kejadiannya di pinggiran danau. Ketika sordam ditiup barulah mayat-mayat itu mengambang ke permukaan danau,” jelas salah seorang musisi tradisi Batak Toba, Jon Ray Sitorus.

“Namun setelah kukaji-kaji pendapat itu tidak seutuhnya salah. Sebenarnya hal itu lebih dikarenakan faktor psikologis. Karena nada dan suara yang dihasilkan sordam sedih seperti tengah meratap. Bahkan jika didengar lebih teliti, nada-nada itu seperti sebuah percakapan. Nah, sementara dalam dunia psikologis pun diakui bahwa jiwa yang bersedih itu rentan dimasuki energi-energi dari luar,” paparnya lagi.

Ditambahkan personal Bertuah Musik ini, pada prinsipnya setiap musik yang berkarakter “minor” memang lebih gampang menggugah kejiwaan manusia. Apalagi dibunyikan secara berulang-ulang sebagaimana ciri sordam.

“Contoh paling sederhana adalah bunyi gamelan. Nadanya berulang-ulang sehingga yang mendengarnya bisa trans. Jadi itu tidak melulu gaib,” terangnya.

Soal bagaimana sordam dianggap bisa memanggil arwah barangkali itu ada ritual tambahan. Tetapi yang pasti siapapun mendengar bunyi sordam akan bergetar jiwanya.

“Bisa kita bayangkan kalau kita mendengar suara ratapan orang yang tengah bersedih. Sedangkan kalau kita melihat orang nangis saja, kita juga bisa ikut-ikutan nangis,” jelasnya.(mc/min)