Pekerja menyelesaikan pembangungan proyek jembatan Holtekamp di Jayapura, Papua, Senin (13/11). Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengupayakan percepatan penyelesaian jembatan Holtekamp yang saat ini pembangunan fisiknya telah mencapai 78,68 persen dan ditargetkan selesai pada September 2018 atau lebih cepat dari rencana semula tahun 2019. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/17
Pekerja menyelesaikan pembangungan proyek jembatan Holtekamp di Jayapura, Papua, Senin (13/11). Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengupayakan percepatan penyelesaian jembatan Holtekamp yang saat ini pembangunan fisiknya telah mencapai 78,68 persen dan ditargetkan selesai pada September 2018 atau lebih cepat dari rencana semula tahun 2019. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama/17

makobar.com – Dunia memandang bahwa sekarang adalah saatnya yang tepat untuk berinvestasi di Indonesia.

Hal ini diungkapkan oleh Bank Dunia (World Bank) yang memandang bahwa Indonesia menjadi tempat berinvestasi yang tepat saat ini didukung oleh berbagai faktor yang sudah dicapai oleh Indonesia.

Saat bertemu Presiden Jokowi di Manila, Filipina, hari Minggu akhir pekan lalu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga memuji iklim investasi Indonesia yang dinilainya semakin kondusif sejak beberapa tahun terakhir.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani sepakat dengan penilaian ini. Menurutnya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi di Indonesia dengan banyaknya potensi proyek yang harus dikembangkan.

“Terutama infrastruktur. Oleh karena itu sangat penting pemerintah memperhatikan dengan serius kemudahan bagi para investor terutama berkaitan dengan regulasi, peirizinan, pajak, tenaga kerja, dan lain-lain,” kata Shinta kepada Kontan.co.id, Senin (13/11/2017).

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Benny Soetrisno juga sepakat dengan penilaian ini. “Betul waktunya untuk investasi karena pasar indonesia bagian dari pasar ASEAN dan negara negara sekitar ASEAN,” kata Benny kepada KONTAN.

Namun, ia tak menampik bahwa investasi langsung asing di Indonesia masih kecil. Tidak sebanyak China yang justru EoDB-nya lebih rendah dari Indonesia sehingga masih ada hal-hal lain baik di dalam parameter EoDB maupun non-EoDB untuk dibereskan agar minat investasi langsung dari investor asing meningkat.

Sebelumnya, Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, pemerintah akan fokus memperbaiki indikator-indikator EoDB yang peringkatnya masih di atas 100. ”Indikator dengan peringkat yang di atas 100 akan jadi prioritas untuk diperbaiki,” katanya.

Indikator yang di atas 100 itu di antaranya starting a business dengan peringkat 144, dealing with construction permits dengan peringkat 108, registering property (106), paying taxes (114), trading across borders (112) dan enforcing contracts (145).

(mc/min)

Jadilah yang Pertama