makobar.com – oleh Tauhid Ichyar

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰٓئِكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 218)

Hijrah secara umum artinya meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan kemungkaran, baik dalam perasaan (hati), perkataan dan perbuatan.

Hijrah juga diartikan perpindahan dari satu situasi atau kondisi yang satu ke kondisi atau situasi yang lain.

Hijrah merupakan perbuatan yang dianjurkan oleh Allah SWT, bahkan bisa wajib tatkala sangat diperlukan.

Secara garis besarnya hijrah itu terdiri yang bersifat fisik yaitu perpindahan tempat, dan yang bersifat non fisik yaitu perpindahan situasi atau mengubah keadaan.

Hijrah bisa bernilai ibadah, jika untuk Allah dan mengikuti Rasul-Nya, dan tidak bernilai ibadah bila dilakukan bukan untuk mencarai ridla Allah SW.

Beliau menandaskan lagi dalam sabdanya:

. ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya :
“Barangsiapa yang hijrahnya untuk kepentingan duniawi, atau kepentingan wanita yang dinikahi, maka manfaat hijrahnya pun sesuai dengan apa yang dituju”.

Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa hijrah itu ada yang syar’i, ada pula yang tidak. Hijrah yang syar’i adalah perpindahan untuk kepentingan tegaknya al-Islam, demi meraih ridla Allah.

Sedangkan hijrah yang tidak bernilai syar’i adalah yang bukan kepentingan jalan Allah, dan tidak bertujuan meraih ridla-Nya.

Oleh karena itu, supaya segalanya bernilai ibadah, ikhlas tujuan untuk mencari ridla Allah dan melakukannya berdasar syari’ah Allah, serta mengikuti sunnah Rasul-Nya.

Banyak diantara kita pernah melangkah jauh merasakan glamournya nikmat dunia hingga lupa suatu saat akan kembali padaNya.

Allah memberikan petunjuk dan hidayahNya kepada sihamba sehingga dapat kembali kejalan yang benar dengan akhir yang baik.

Dan tidak pula sedikit diantaranya terjerumus jauh hingga lupa kembali, sehingga sampai pada akhir yang buruk.

Sabda Rasul SAW,

الُمهَاجِرُمَنْ هَاجَرَ  مَا نَهَى الله عَنْهُ

Artinya :
“Orang hijrah adalah yang meninggalkan segala yang dilarang  Allah SWT”. (HR. Ahmad)

Makna Hijrah merubah diri dari perbuatan buruk menuju perbuatan yang diridhoi Allah SWT.

Namun secara khusus adalah pindahnya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya dalam rangka menyelamatkan iman dan Islam serta membangun peradaban baru di tempat baru.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّؤُ الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّاۤ اُوْتُوْا وَيُـؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَـفْسِهٖ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya :
“Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 9)

Ini menunjukkan bagaimana ukhuwah tertanam di hati para sahabat Nabi Muhajirin dan Anshar Radhiyallahu anhum.

Rasulullah SAW mempersaudarakan mereka di jalan Allah dan persaudaraan ini berpengaruh sampai pada kehidupan mereka yang paling mendalam.

Sebagai contoh, ketika Abdurrrahman bin Auf radliyallahu Anhu dari kelompok Muhajirin dipersaudarakan dengan Sa’ad bin al Rabi’ dari Anshar. Seketika Sa’ad dengan penuh kejujuran dan keikhlasan menawarkan kepada Abdurrahman untuk mengambil separuh dari kekayaannya dan salah seorang dari kedua istrinya.

Itulah yang disebut sebagai itsar yakni mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri.

Makna Hijrah akan selalu hidup dalam diri orang-orang yang beriman.
Hidup karena mereka selalu menghayati nilai-nilainya dan mengamalkan pesan-pesan moralnya.

Bagi mereka peristiwa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW. Itu bukanlah kejadian biasa, melainkan menjadi sebuah tuntunan, yang harus senantiasa direnungkan maknanya dan diamalkan ibrahnya.

  1. Dari kajian di atas dapat diambil beberapa ibrah dari hijrah sebagai berikut:
    (1) Niat merupakan penentu atas nilai suatu amal, baik ucap, sikap maupun perbuatan.
    (2) Hijrah, nilainya bukan hanya ditentukan oleh cara, tapi juga dipengaruhi tujuan.             Hijrah yang baik adalah yang ditujukan untuk kepentingan Allah dan Rasul-Nya.
    (3) Hijrah secara fisik dalam arti perpindahan tempat bersifat situasional.

Hijrah yang mutlak dilakukan adalah perubahan sikap, dari yang kurang baik menjadi baik, terutama dalam berjihad dijalanNya.

SEMOGA BERMANFAAT.

Jadilah yang Pertama