DENDAM. (ilustrasi)
DENDAM. (ilustrasi)

OLEH: Ir.Tauhid Ichyar.MT

Apakah kita sudah mengetahui hakikat dendam? Dendam berarti rasa marah yang kita simpan jauh di dalam hati seseorang yang menyimpan dendam terhadap orang lain.

Firman Allah SWT :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Artinya :
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (al-A’râf 7:199).

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seseorang memaafkan kedzaliman (terhadap dirinya) kecuali Allah akan menambah kemuliaannya,” (HR. Ahmad, Muslim dan Tirmidzi).

Pendendam biasa menyimpan keinginan membalas terhadap orang yang didendam. Ia menginginkan orang yang menyakitinya merasakan seperti apa yang ia rasakan bahkan lebih menyakitkan dari apa yang telah dilakukan.

Allah SWT berfirman:

وَجَزٰٓؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ

Artinya :
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 40)

Sifat buruk dendam seperti ini tidak pantas dicontoh, Islam sangat melarang pengikutnya untuk mempunyai sifat
dendam.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَ يَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Artinya :
“Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksaan yang pedih.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 42)

Namun, tahukah Anda bahwa terdapat satu cara terbaik balas dendam dalam Islam. Apakah itu? Cara tersebut adalah dengan menjadi jiwa yang pemaaf dan berlapang dada.

Allah SWT berfirman:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ اِنَّ ذٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Artinya :
“Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 43)

Maka dengan demikian jelaslah bahwa dosa tidak dibalas dengan dosa. Sebab akhlaq yang mulia tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Namun, manusiswi sekali, yakni ketika terzalimi ingin membalas dengan perilaku juga.

Seringkali kita terbawa oleh emosi yang memuncak untuk membalas prilaku buruk dengan prilaku buruk juga.
Seperti ketika kita mendengar orang lain menjelek-jelekan kita terbawa emosi lalu ikutan membalas dengan menjelek-jelekkan juga.

Padahal jika ada orang yang menjelek-jelekan kita, kemudian dia membuka aib kita kepada orang lain maka pahala orang tersebut akan dilimpahkan ke kita. Sedangkan dosa dalam dirinya akan bertambah.

Rasulullah ﷺ bersabda,

artinya :
“Apabila ada seseorang yang mencacimu atau menjelek-jelekanmu dengan aib yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah kamu balas memburukkannya dengan aib yang kamu ketahui ada padanya. Maka pahalanya untuk dirimu dan dosanya untuk dia,” (HR. Al Muhamili).

Islam melarang umatnya untuk memiliki sifat pedendam. Mengapa? Karena sifat pedendam hanya akan membuat seseorang kehilangan akhlaknya dan membuat dirinya semakin jauh kepada Allah SWT. Sangat jelas bahwa Allah SWT dan Rasulullah ﷺ sangat benci orang-orang yang berperilaku dendam. Allah SWT menganjurkan untuk saling memaafkan.

Allah SWT berfirman:

وَسَارِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ

Artinya :
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 133)
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya :
“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

Dendam bagaikan lidah api yang menyala-nyala membakar segala amal kebaikan. Ikhlas, mampu memberi maaf, dan berlapang dada itulah cara terbaik kita untuk membalas dendam.

Menjadi jiwa pemaaf akan lebih baik dalam melampiaskan rasa dendam dalam diri.

Meski terkadang rasa kesal dalam hati itu masih tersimpan, tapi jiwa pemaaf akan melunturkannya.

Aura wajah orang-orang pendendam suram dan hitam, bagai nenyimpan masalah tak berkesudah.
Maafkan kesalahan orang lain sehingga, kebencian dan amarah tidak akan bertahan lama dalam hati kita.

SEMOGA BERMANFAAT.

BAGIKAN

Jadilah yang Pertama