Pertumbuhan Perekonomian Sumut  'Auto Pilot' dan Tidak Berkualitas Kata Gus Irawan
makobar.com – Pertumbuhan Perekonomian Sumut ‘Auto Pilot’ dan Tidak Berkualitas Kata Gus Irawan

Medan – Ketua Komisi VII DPR-RI, Gus Irawan Pasaribu beranggapan pertumbuhan perekonomian Sumut yang dibangga-banggakan berada di atas angka nasional adalah auto pilot dan tidak berkualitas.

Dia mengungkapkan hal itu saat ditanya wartawan tentang klaim ekonomi Sumut tumbuh lebih baik daripada nasional. Gus Irawan Pasaribu menyatakan sebenarnya jika dicermati pertumbuhan ekonomi Sumut sejak 2012 sampai sekarang bukan lebih baik.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sumut pada 2012 di angka 6,45 persen, turun jadi 6,13 persen di 2013. Kemudian di 2014 drop lagi jadi 5,23 persen, lalu 2015 merosot lagi jadi 5,10 persen dan pada 2016 menjadi 5,18 persen. Lantas di 2017 sampai triwulan ketiga tumbuh 5,21 persen.

Gus Irawan mengatakan sebenarnya membandingkan pertumbuhan ekonomi Sumut dengan nasional tidak terlalu relevan dan bukan sesuatu yang pantas dibanggakan. “Bagaimana mungkin pertumbuhan ekonomi nasional dibandingkan dengan Sumut. Karena capaian angka nasional adalah rata-rata pertumbuhan ekonomi seluruh daerah di Indonesia. Artinya ada yang tinggi ada yang rendah,” jelasnya.

“Jadi akumulasi pertumbuhan ekonomi nasional itu dihitung dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Kalau mau bandingkanlah pertumbuhan ekonomi Sumut kuartal III 2017 dengan Sumatera Barat misalnya dengan periode yang sama. Kita tumbuh 5,21 persen, Sumbar tumbuh 5,38 persen,” kata Gus Irawan.

Jangan bandingkan Sumut dengan pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta, karena mereka tumbuh sudah sampai 6,2 persen, ungkapnya. “Jadi kira-kira begitu cara ideal menurut saya untuk membandingkan,” tambah Gus.

Dia menjelaskan, pencapaian pertumbuhan ekonomi Sumut biasa-biasa saja kecuali kalau berani membandingkan dengan laju pertumbuhan provinsi lain yang selama ini berkontribusi besar terhadap nasional. “Saya yakin tidak ada gubernur Sumut pun pasti ekonomi kita tetap tumbuh,” jelasnya.

Artinya dibiarkan saja mesin penggerak pertumbuhan ekonomi bekerja pasti akan tercapai juga angka itu, tambah Gus Irawan. “Kita Harus lihat bahwa dari penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar sebenarnya sektor konsumsi. Itu yang membuat ekonomi tumbuh. Bukan karena pengaruh pemerintah daerah. Sebab tak ada yang mereka kerjakan. Lebih banyak hanya pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya seremonial. Ganti pejabat, ganti kepala dinas, acara peresmian. Itu tidak ada kaitannya dengan pendorong pertumbuhan,” ungkapnya.

Gus Irawan Pasaribu mengedepankan pentingnya regulasi pendorong pertumbuhan. “Kalau seperti sekarang pertumbuhannya ya biasa saja menurut saya. Mau dibuat apa lagi. Tak ada pun gubernur kita, ekonomi tetap tumbuh seperti itu,” jelasnya.

Jika bicara kontribusi sektor dari komoditi yang dihasilkan Sumut maka penyumbang terbesarnya dari sawit, karet, kakao dan beberapa yang lain. “Nah lihat lagi sekarang siapa pemilik kebun sawit terbesar, yang punya kebun karet siapa. Lalu dimana peran masyarakat kita dalam berkontribusi. Jadi makanya bisa saya katakan tanpa pemerintah daerah pun bisa saja tumbuh,” ujarnya.

Jangan terlalu membanggakan soal pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya dicapai dengan autopilot dan tidak berkualitas. “Tidak berkualitas karena sebenarnya jika tumbuh maksimal maka setiap satu persen pertumbuhan menampung 300 ribu angkata kerja baru. Ini ada? Berapa angka pengangguran Sumut. Masih di posisi 400 ribuan orang kan,” tanyanya.

Menurut dia, ke depan yang harus difikirkan adalah bagaimana agar pertumbuhan ekonomi Sumut diikuti pemerataan pendapatan (distribution of income). “Sekarang jika kondisinya seperti yang saya gambarkan sama artinya ekonomi kita tumbuh pun hanya milik segelintir orang. Akibatnya ada yang terlalu kaya namun di sisi lain banyak juga penduduk sangat miskin. Bertolak belakang itu,” kata Wakil Ketua Fraksi Gerindra di DPR-RI itu.

Menurut Gus, jika sesuai dengan hitung-hitungan Bank Indonesia maka struktur pertumbuhan ekonomi Sumut mirip dengan pemulihan nasional. “Saya kutip apa yang disampaikan BI bahwa 2017 merupakan tahun pemulihan ekonomi global setelah menyentuh titik terendah pertumbuhan ekonomi pada 2016. Seiring pemulihan ekonomi global dan nasional, perekonomian Sumut juga mengalami perbaikan. Pertumbuhan ekonomi Sumut secara umum lebih baik dari kinerja perekonomian nasional.”

“Kesimpulannya pertumbuhan ekonomi Sumut itu adalah hal yang wajar dan relevan. Karena ekonomi nasional juga membaik. Kebanggaan itu jika ekonomi daerah lain tumbuh rendah kita tumbuh tinggi. Head to head saja dengan pertumbuhan ekonomi daerah-daerah di Pulau Sumatera saja, tidak perlu membandingkan sampai ke provinsi di Jawa. Sehingga kita tidak merasa jago di kandang sendiri,” tambahnya.(mc/wirna)