Mengulang Kaji - Sederhana dan Tidak Berlebihan
Kesederhanaan Hidup. (Foto/Google)

Mengulang Kaji – Sederhana dan Tidak Berlebihan

makobar.com – Islam menganjurkan umatnya hidup sederhana dalam semua aspek, sikap hidup dan dalam beramal. Islam adalah agama yang mengedepankan kesederhanaan yang tinggi. Kesederhanaan adalah satu ciri khas dalam Islam dan inilah yang membedakan dari umat lain.

Allah SWT berfirman:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَکُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِ ۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya) :
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)

Atas prinsip inilah, maka umat Islam yang sejati merupakan umat yang adil dan sederhana. Dan yang akan menjadi saksi di dunia dan di akhirat di atas setiap penyelewengan, penindasan serta penyimpangan ke kanan maupun ke kiri dari jalan pertengahan yang lurus.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi, “ Sebaik-baik perkara ialah yang paling sederhana”

Kesederhanaan adalah budaya yang telah diterapkan oleh Rasulullah SAW.
Budaya sederhana dan sentiasa mendaulatkan prinsip keadilan serta kemanusiaan inilah yang membentuk generasi Islam yang begitu mantap dan berkualitas.

Generasi yang dididik oleh Rasulullah SAW dengan ciri kesederhanaan dan penghayatan memahami Islam yang sejati berlandaskan Al-Quran itulah yang akhirnya berhasil mengangkat panji-panji Islam ke seluruh dunia.

Al-Quran mengajak untuk hidup sederhana, menurut Al-Quran jalan yang terbaik adalah jalan tengah sebagaimana

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ اِذَاۤ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

Artinya :
“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 67)

Hadits tentang Hidup sederhana (Zuhud)
عَنْ عَمْرِوبْنِ شَعْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنِ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلْ وَاشْرَبْ وَالْبَسْ وَتَصَدَّقْ فِى غَيْرِ سَرَفٍ وَلاَ مَخِيْلَةٍ (أخرجه أبوداود وأحمد)

Artinya:
Dari Amr bin Sya’ab dari bapaknya dari kakeknya ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bershadaqahlah dengan tidak berlebih-lebihan dan menyombongkan diri”
(HR. Abu Daud dan Ahmad)

Inilah kesederhanaan hidup Rasulullah SAW. Beliau bisa saja hidup mewah seperti Kaisar Romawi dan Kisra Persia. Tapi beliau tidak mau melakukan itu. Sebagian besar hartanya diberikan untuk ummatnya. Ulama sebagai Pewaris Nabi harusnya mewarisi sikap hidup beliau yang sederhana dan tidak berlebihan.

Suatu hari diceritakan dalam syroh Umar ra memasuki kamar Nabi, Aku lalu segera masuk menemui Rasulullah SAW yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di  dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak.

Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan.
Rasulullah bertanya, “Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab?”

Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar Romawi dan raja Persia bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini.

Rasulullah SAW lalu bersabda,

“Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Tentu saja aku rela…” (Shahih Muslim No.2704)

Hadis riwayat Hudzaifah bin Yaman ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Janganlah kalian minum dalam wadah emas dan perak dan jangan mengenakan pakaian sutera sebab pakaian sutera itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat pada hari kiamat”.
(Shahih Muslim No.3849)

Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kita, hidupnya sederhana tidak berlebih-lebihan.

Namun demikian, bukan berarti negara yang beliau pimpin lemah dan dapat ditaklukan. Bahkan kekayaan negara itu sebagian besar dipakai untuk mensejahterakan rakyat dan pasukan beliau, sehingga orang-orang kafir tak berkutik, orang-orang Yahudi, Kerajaan Romawi, dan Kerajaan Persia tidak memiliki kemampuan apapun menyerang Islam. Bahkan, justru sebaliknya, merekalah yang bertekuk lutut dibawah kekuasaan Rasulullah SAW.

SEMOGA BERMANFAAT

(Tauhid Ichyar)