Penampakan Langka Saat Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun

makobar.comPenampakan Langka Saat Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun.

Pemandangan langka terlihat di Gurun Sahara pada Desember ini. Salju turun di gurun terluas ini untuk kali pertama dalam 37 tahun terakhir.

Gurun Sahara merupakan salah satu tempat terpanas di dunia. Bisa dikatakan hampir tidak mungkin ada salju di Sahara.

Namun, fenomena unik nan langka itu terjadi pada Minggu (7/01/2018), Sahara diselimuti salju setebal 40 sentimeter. Fenomena ini tentu menimbulkan tanya bagi banyak orang, bagaimana bisa wilayah terpanas di dunia tertutup salju yang identik dengan dingin.

Baca juga : Sidang Cerai Ahok-Veronica Ditetapkan Pada 31 Januari 2018

Seorang fotografer amatir, Karim Bouchetata, mengabadikan momen tersebut dari kota kecil di Sahara, Ain Sefra, Algeria, pada Senin (19/12/2016) yang lalu.

Karim memotret pemandangan gurun yang menjadi dramatis manakala salju jatuh di pasir Sahara yang berwarna kemerahan.

Penampakan Langka Saat Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun
Penampakan Langka Saat Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun

“Semua orang terpukau melihat salju yang turun di gurun. Salju bertahan selama satu hari, kemudian meleleh,” kata Karim seperti dikutip Daily Mail, Selasa (20/12/2016).

Ini merupakan kali kedua salju turun di Sahara. Sebelumnya tercatat, salju pernah turun di Gurun Sahara pada 18 Februari 1979. Saat itu, badai salju terjadi lebih kurang selama sekitar satu jam.

NASA Earth Observatory mengungkapkan, Enhanced Thematic Mapper Plus di Satelit Landsat 7 telah menangkap gambar-gambar salju turun di Sahara.

Baca juga : KPU Nyatakan Berkas 3 Paslon Lengkap, Selanjutnya Pemeriksaan Kesehatan dan Penelitian Berkas

Kondisi ketika salju menutupi area di Afrika Utara terlihat pada 19 Desember 2016 lalu, terutama di daerah dekat perbatasan Maroko dan Algeria, selatan kota Bouarfa dan barat daya dari Ain Sefra.

Gurun Sahara meliputi sebagian besar Afrika Utara. Sahara telah melalui pergeseran suhu dan kelembaban selama beberapa ratus tahun.

Di wilayah ini, suhu musim panas biasanya berkisar 37 derajat celsius.

Curah hujan yang sangat sedikit membuat daerah ini jarang sekali merasakan suhu yang dingin pada musim dingin.

Meskipun saat ini Gurun Sahara sangat kering, ahli perpendapat gurun ini kembali menghijau 15.000 tahun lagi.

Baca juga : Diduga Hendak Melarikan Diri, Terduga Pelaku Pembunuhan Sekeluarga di Aceh Ditangkap di KNIA

Ternyata peristiwa langka ini disebabkan oleh tekanan tinggi di Eropa. Tekanan tinggi tersebut menyebabkan udara dingin bergerak dari Afrika Utara ke Gurun Sahara.

Penampakan Langka Saat Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun
Penampakan Langka Saat Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun

Dilansir dari Forbes, Senin (8/01/2018), massa udara dingin tersebut kemudian naik 3.280 kaki ke ketinggian Ain Sefra, sebuah kota yang dikelilingi oleh Pegunungan Atlas dan mulai bersalju pada Minggu pagi.

Ain Sefra dikenal sebagai “pintu gerbang ke padang pasir” yang memiliki suhu rata-rata 37,6 derajat celsius selama Juli. Hal itu membuat penduduknya lebih terbiasa dengan panas ekstrem dibanding salju.

Salju yang turun di Sahara ini tidak bertahan lama karena menjelang sore suhu naik 5 derajat celsius.

Sebenarnya, peristiwa Sahara ditutupi salju bukan sekali ini terjadi. Sebelumnya, Gurun Sahara pernah mengalami hal ini pada 1979, 2016, dan 2017.

Baca juga : DPC PPP Se-Sumut Menolak Dukungan Djarot-Sihar

US Geological Survey (USGS) mencatat bahwa salju tidak jarang terjadi di dataran tinggi Afrika, tetapi mereka juga mengatakan bahwa salju “jarang jatuh” di tepi padang pasir.

“Meskipun suhu musim dingin [Ain Sefra] diketahui turun ke suhu 30 derajat, salju sama jarangnya dengan suhu dingin yang terjadi karena curah hujan di sana hanya beberapa sentimeter setiap tahunnya,” kata agensi tersebut dikutip dari Huffington Post, Rabu (09/01/2018).

Penampakan Langka Saat Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun
Penampakan Langka Saat Salju Turun di Gurun Sahara Setelah 37 Tahun

Meski begitu, Stefan Kropelin, seorang ahli geologi di Universitas Cologne, Jerman menyebut hampir tidak mungkin menghitung berapa kali turun salju di Sahara.

Baca juga : Memeras Toke bawang , Pria Ini Nginap di Hotel Prodeo

“Sahara sama besarnya dengan Amerika Serikat, dan hanya ada sedikit stasiun cuaca,” kata Kropelin dikutip dari New York Times, Rabu (9/01/2018).

“Jadi konyol mengatakan bahwa ini adalah yang pertama, kedua, ketiga kalinya turun karena tidak ada yang tahu berapa kali salju turun di masa lalu, kecuali mereka berada di sana,” ujarnya.

Untungnya, salju yang turun di Sahara ini tidak bertahan lama. Menjelang sore ketika suhu naik lima derajat celcius, salju mulai mencair. (mc/min)