Berbuat kebaikan (Ilustrasi)
Berbuat kebaikan (Ilustrasi)

MENGULANG KAJI – MENDULANG KEBAIKAN

makobar.com – Sebuah masjid Agung karya Arsitektur abad pertengahan bernama At-Taubah masih terlihat kokoh berdiri. Bentangan kokoh kayu-kayu Meranti, Jati dan Merbau menyanggah sudut-sudut bangunan. Deretan bangunan Madrasah dan beberapa rumah penduduk mengitari bangunan masjid terlihat bagai sebuah barisan serasi dan asri.

Letak Masjid bersebelahan dengan sungai yang mengairi persawahan penduduk. Pada jarak lima ratusan meter terdapat pemukiman penduduk, masyarakat agamis, selalu hadir memakmurkan masjid. Masjid ini dilimpahi keberkahan, ketenangan, dan kerukunan.

Sejak setahun lalu, masjid dijaga anak muda alim yang selalu mengamalkan ilmunya. Beliau sebagai nazir, pembersih dan muazzin sekaligus imam Masjid.

Salim al-Azhar, demikian nama anak muda itu. Ia contoh ideal dalam kesederhanaan dan kesantunan. Selalu enggan meminta belas kasih orang, akhlaq yang terhormat, serta memiliki perhatian besar terhadap umat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ

Artinya :
Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu
[Âli ‘Imrân/3: 186]

Hari itu, sejak pagi hingga lepas Isya, seharian ia belum memakan sesuatu pun, kecuali air putih yang telah berkali-kali diteguknya, karena tak ada apa-apa yang bisa dimakannya, Ia tidak punya uang untuk membeli makanan. Ingin menyampaikan kejamaah namun rasa malunya menghalangi untuk melakukan itu.

Sampai tiba hari kedua, ia merasa gontai, seolah-olah nyaris kehilangan semangat dan berpikir tentang apa yang akan ia lakukan. Menurutnya, ia telah sampai pada ambang batas darurat yang dibolehkan untuk makan sesuatu atau mencari sebatas kebutuhan. Antara meminta atau jalan lain, ia lebih memilih mencari sesuatu didapur rumah penduduk yang bisa mengisi lambungnya dengan makanan. Pikiran buruk berputar diseputaran otaknya.

Allah SWT berfirman :

وَمَاۤ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ

Artinya :
“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 30)

Ia melihat keatas lubang plafon, dengan sebuah tangga dilihatnya kecelah lubang plafon. konstruksi kayu masjid itu berdempetan dengan beberapa rumah, yang memungkinkan seseorang untuk beralih dari satu rumah ke rumah lainnya dengan merangkak di atas atap rumah.

Malam itu Salim naik ke roggga plafon, dari sana dia berpindah ke sebuah rumah. Sesaat kemudian secara sembunyi dia melihat seorang perempuan sedang tiduran, kilauan lampu kamar, dirundukkan badannya, menghindar dari penglihatan wanita itu. Setelah menanti sejenak, lalu dia berlahan bergerak dari balik kisi-kisi kaso. Salim mencium aroma masakan dari rumah itu. Rasa lapar yang diciumnya itu bagai sebuah magnit menawan dirinya. Dengan dua kali lompatan Salim sudah sampai diruang makan rumah itu.

Kini ia sudah berada dalam rumah, dan segera ia menuju ke ruang dapur, terselip golok diujung senta, didalam kulkas terlihat berbagai makanan segar. Saat ditutupkannya pintu kulkas, dari balik pintu kamar yang terbuka tersingkap rok wanita sedang tertidur, terlihat jelas keindahan perhiasan perempuan itu, shiiir…, gelora kelaki-lakian mengusik keras dada Salim, jantungnya berdegub bagai lokomotif uap.

 Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهٗ شَيْطٰنًا فَهُوَ لَهٗ قَرِيْنٌ

Artinya :
“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.”
(QS.43: Ayat 36)

وَاِنَّهُمْ لَيَصُدُّوْنَهُمْ عَنِ السَّبِيْلِ وَيَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

Artinya :
“Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 37)

Suara bisikan halus namun sangat jelas terdengar Salim ,“Lakukan, lakukan…,gunakan golok itu,…tak seorangpun yang tahu, dia milikmu” bisik syetan samar-samar ditelinganya”. Sesaat akal dan nurani bekerja, seraya berkata pada diri sendiri, “tidak…, tidak, jangan lakukan…, aku berlindung kepadaMu ya Allah, aku seorang pencari ilmu dan mukim di masjid, ini bukan haqku?”. Salim merasa sangat berdosa atas apa yang sudah ia perbuat, sangat menyesal, beristighfar terus kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Artinya :
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 135)

Salim segera mengembalikan golok dan makanan yang sudah diambilnya, membuka pintu, “kreeek..bruk”, Salim bersegera lari meninggalkan tempat itu, rasa lapar sudah tak dirasakannya lagi. Dia kembali ke masjid gemetaran dan duduk merenung akan perilaku ma’siat yang baru dilakukannya, hampir mengambil yang bukan menjadi haqnya dan nyaris menodai wanita yang bukan muhrimnya, ”dosaku, dosaku, dosaku” gumannya sambil menyesali dan menangis terseduh-seduh, hingga tertidur dengan perut kosong.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh salah seorang sahabat,

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

Artinya :
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad)

Selang beberapa hari, tiba-tiba datang kepelataran Masjid seorang wanita bergamis putih, lalu wanita itu berbicara kepada Syaikh Abdullah dengan kata-kata yang tidak dapat didengar Salim.

Kemudian sang Syaikh melayangkan pandangan ke sekitarnya, dan ia tidak melihat orang lain kecuali Salim. Lalu Syaikh Abdullah memanggilnya, seraya bertanya: “Apakah kamu sudah punya istri?” jawab Salim, “belum ya Syaikh”, sambung Syaikh lagi, “apa kamu ingin menikah?”. Lalu Salim diam, dan sang Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Kemudian Salim menjawab, “ya Syaikh, tapi dengan siapa saya harus menikah?” jawab Salim ragu. Kata Syaikh pula, “Wanita itu bercerita bahwa suaminya telah meninggal, Ia tinggal sendiri dirumahnya, kemarin malam rumahnya dijambangi maling yang nyaris memperkosanya, “maukah kau menikah dengannya?”, jelas Syaikh lagi.

Lebih lanjut Syaikh menjelaskan: “Dia telah memperoleh warisan rumah dan mata pencaharian suaminya. Dia ingin mendapatkan seorang lelaki yang mau diajak berkeluarga agar dia tidak terus menerus dalam kesendirian dan ketakutan. Apakah kamu ingin menikah dengannya?”, jawab Salim tanpa ragu, “Ya”, Syaikh juga bertanya kepada wanita itu, “apakah engkau mau menerima dia sebagai suamimu ?”, jawab wanita itu, “ya”, kemudian asy-Syaikh memanggil paman dan keluarga wanita itu serta dua orang saksi, lalu akad nikah pun dilangsungkan di Masjid.

Salim menceritakan kisahnya beberapa hari setelah pernikahannya kepada istrinya, dan sahut istrinya, “Itulah buah amanah. Engkau telah menjaga diri dari dosa dan meninggalkan pekerjaan ma’siat, lalu Allah memberimu rumah seisinya lengkap dengan berbagai makanan dan pemiliknya secara halal, “barangsiapa yang meninggalkan suatu keburukan karena Allah, maka Allah menukarnya dengan perkara yang lebih baik darinya.”

SEMOGA BERMANFAAT

(Tauhid Ichyar)