Bicara Ilustrasi
Bicara Ilustrasi

MENGULANG KAJI – BICARA

makobar.com – Bicara adalah salah satu aspek yang paling jelas memberi gambaran nyata tentang pribadi seseorang. Lewat bicara, setiap orang sudah membangun komunikasi kepada orang lain.

Bicara, mengekspresikan rahasia dan jati diri seseorang, karena ia muncul dari dalam diri yang terdalam dari hati nurani.

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu.
Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]

Rasulullah bersabda.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya,:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”
(Hadits)

“Imam Syafi’i bahwa maksud hadits ini adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara.

Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara”. Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara”.

Bicara, sebait kata yang belum berarti apa-apa, ia akan memiliki kekuatan, memiliki makna atau ungkapan apabila bait kata ditambah kata, “bicara keras”, “bicara kritis”, “bicara lemah lembut”, “bicara tegas”, “bicara jujur”, “bicara dusta”, dan lainnya. Setiap kita memiliki kemampuan bicara yang berbeda, lewat bicara ada informasi yang ingin kita sampaikan kepada orang lain.

Apakah informasi itu menyangkut diri kita, menyangkut orang lain atau informasi lainnya.

Lewat bicara kita membangun komunikasi kepada orang lain. Bicara, mengekspresikan rahasia dan jati diri seseorang, karena ia muncul dari dalam diri yang terdalam dari hati nurani.

Bicara adalah salah satu aspek yang paling jelas memberi gambaran nyata pada kita tentang seseorang. Kita sering terjebak saat bertemu seseorang diberbagai forum, karena penampilannya. Kita merasa yakin sosok yang kita lihat cerdas, optimistis, mudah bergaul dan penuh empati, namun saat bicara atau saat mengajaknya diskusi persepsi kita semula salah.

Ternyata tampilan tidak selamanya sesuai dengan isi yang dikandung didalamnya.
Dari bicara kita bisa menemukan salah satu aspek yang memberi gambaran umum tentang seseorang yang ada dihadapan kita. Karena itu bicara bukan hal sepele dalam kehidupan manusia.

Sebuah rumah tangga yang kokoh, dibangun dengan susah payah akan runtuh atas sebuah ucapan ”cerai” dari suami. Sebagaimana ucapan “terima” pada sebuah akad pernikahan, dapat menyatukan dua manusia berlainan jenis dengan melebur, budaya, karakter masing-masing pribadi dalam mahligai rumah tangga.

Demikian penting bicara bagi manusia sehingga setiap kita bicara ada dua malaikat yang menyaksikan “ tidaklah seseorang mengucapkan suatu kata-kata kecuali disisinya ada Raqib dan ‘Atid (pengawas pencatat).

Allah SWT berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Artinya :
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(QS. Qaf 50: Ayat 18)

Apa yang kita ucapkan adalah gambaran atas apa yang ada dalam diri kita. Dengan ucapan kata-kata yang santun maka orang lain akan berfikir dan menilai bahwa kita adalah orang yang beraklaq baik.

Sebaliknya orang yang dari kata-katanya banyak meluncur caci maki, kebohongan, kedengkian, senda gurau yang berlebihan dengan kata-kata yang tidak layak, tentu dengan mudah kita menilai bahwa orang tersebut berakhlaq buruk, penuh kebencian, kedengkian dan ahli fitnah.

Ucapan atau tulisan adalah ekspresi perasaan dan pikiran. Bentuk ekspresi tentu sama dengan apa yang diekspresikan. Bila yang terungkap melalui lisan atau tulisan bernilai negatif, hati orang tersebut juga negative.

Seperti ceret, bila air yang keluar dari ceret itu berupa kopi, maka dipastikan yang ada dalam ceret tersebut ialah kopi, bukan air putih. Sebaliknya, bila ungkapan-ungkapan yang keluar melalui lisan atau tulisan berisi kata-kata baik, berarti hati orang tersebut juga baik. Walau ditutupi dengan casing dan ucapan yang baik suatu saat pasti kelihatan aslinya.

Ada kata bijak “tong kosong nyaring bunyinya”, merupakan satu diantara sekian banyak yang sering kita dengar. Peribahasa sederhana tersebut memiliki makna yang sangat luas dan dalam. Berbicara, ngobrol, bakombur, bercengkarama, atau apapun aktifitas lisan merupakan ungkapan apa yang ada dalam hati dan pikiran.

Dalam sebuah syair disebutkan, “sungguh, pembicaraan itu letaknya dalam hati. Lisan hanya sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan hati”. Bicara merupakan cermin diri, sebagaimana bicara, bahasa lisan diekspresikan lewat tulisan. Tulisan merupakan gambaran diri kita. Tidak sekedar menulis, menulis dengan ketulusan hati. Maka bahasa bicara yang terekspresikan lewat tulisan adalah gambaran tentang siapa kita, ketulusan kita, alur pikir, gagasan, kadar pengetahuan kita atau sinyal jelas tentang pribadi kita.

SEMOGA BERMANFAAT


Penulis : Ir. Tauhid Ichyar. MT

Editor   : Diqi