Foto Bareng Miss Israel, Wanita Ini Terima Ancaman Pembunuhan
makobar.com – Foto Bareng Miss Israel, Wanita Ini Terima Ancaman Pembunuhan

MEDAN – Sarah Idan, wanita yang dibesarkan di Baghdad kelahiran 4 Februari 1990 mengungkapkan bahwa keluarganya dipaksa untuk mengungsi dari negaranya di tengah teror setelah ia mengunggah sebuah foto selfie bersama Miss Israel Adar Gandelsman.

Niat wanita yang mewakili Irak dalam ajang Miss Universe 2017 ini untuk mempromosikan perdamaian antara Irak dan Israel yang tengah berperang ternyata tidak diterima baik oleh sebagian masyarakat.

Menurut Gandelsman yang hingga kini masih berkontak dengan Idan, sang puteri Irak , dan keluarganya telah menerima ancaman pembunuhan dari orang Irak.

“Orang-orang membuat ancaman pembunuhan kepadanya dan keluarganya bahwa jika dia tidak pulang ke rumah dan menghapus foto-fotonya, mereka akan menanggalkan titelnya [Miss Iraq], dan bahwa mereka akan membunuhnya,” ujar Gandelsman kepada Israeli TV, melansir AceShowbiz.

“Karena ketakutan, mereka pergi hingga, paling tidak, situasinya membaik,” imbuhnya.

Baca Juga :

Idan, yang tinggal di Amerika Serikat, kemudian mengunggah cuitan di akun Twitter miliknya.

“Saya bukan orang pertama maupun yang terakhir yang menghadapi persekusi atas sebuah permasalahan kebebasan personal. Jutaan wanita Irak hidup dalam ketakutan. #bebaskanwanitaIrak,” ujarnya seraya menyertakan tautan hasil wawancara Gandelsman.

Foto selfie yang diunggah itu diambil saat keduanya mewakili negaranya masing-masing di malam penganugerahan Miss Universe 2017 yang digelar di Tokyo pada November lalu.

Dalam foto yang telah disukai oleh lebih dari 7.000 orang di Instagram itu, Idan menulis keterangan, “Damai dan cinta dari Miss Iraq dan Miss Israel.”

Idan, yang mengaku pernah mengabdi sebagai tentara Irak dan Amerika Serikat, bercerita, awalnya Gandelsman meminta untuk berfoto bersama dirinya dan menyetujuinya karena ia juga mengharapkan perdamaian dan ingin bersama-sama menyampaikan pesan tersebut.

“Foto ini tidak berarti bahwa saya mendukung pemerintah Israel atau kebijakan-kebijakan mereka terhadap negara-negara Arab. Saya minta maaf kepada semua orang yang melihat ini sebagai sebuah ejekan kepada orang-orang Palestina, karena bukan itu tujuannya,” ujarnya.

Gandelsman, sementara itu, mengatakan kepada Idan bahwa ia berharap suatu hari akan ada perdamaian di antara dua agama (Yudaisme dan Islam) dan anak-anaknya tidak harus mengikuti wajib militer. (mc/str)