Jalan Dakwah
Jalan Dakwah

makobar.com – Rasullullah SAW telah menyelesaikan dakwahnya dengan baik sepanjang dua puluh tiga tahun. Sepanjang waktu tersebut tidak sedikitpun dari waktu beliau yang tidak digunakan untuk berdakwah.

Untuk menyampaikan tugasnya beliau tidak pernah merasa lelah dan selalu lemah lembut dalam dakwahnya. Bahkan orang yang keras menentang beliau seperti Abu Jahal kerap kali beliau ajak masuk Islam dan sering mengundang kaum Quraisy untuk menghadiri perjamuan makan di rumah beliau guna menyampaikan dakwahnya kepada mereka.

Kebiasaan beliau berdakwah diikuti pula oleh para sahabat, sehingga orang-orang yang mendatangi para sahabat semuanya menyatakan ke-Islaman mereka.

Tidak mudah untuk bertahan di jalan dakwah, karena itulah Allah SWT telah menyiapkan balasan yang besar bagi siapa saja yang dengan tulus ikhlas tetap istiqamah berjuang dijalan Allah. Allah SWT telah menyiapkan surga untuk mereka yang dengan ikhlas menginfaqkan harta dan jiwanya dijalan Allah.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ ۗ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِ ۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰ لِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Artinya :
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 111)

Ujian dalam dakwah adalah hal yang lumrah dan sunnatulloh sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Dengan adanya cobaan akan menjadikan kita lebih kuat dan lebih kreatif serta inovatif dalam berdakwah.

Ketika kita belum pernah merasakan rintangan dari beberapa pihak boleh jadi kita belum bisa dikatakan telah berdakwah.

Allah SWT berfirman:

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ

Artinya :
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?” (Ayat 2)

وَلَقَدْ فَتَـنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَـعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

Artinya :
“Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 2-3)

Tidak sedikit, mereka yang berjuang dijalan dakwah harus minggir dan menepi bahkan berhenti memperjuangkan agama Allah SWT karena mereka tidak sanggup untuk bertahan atas cobaan yang diberikan oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَ لَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

Artinya :
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 214)

Betapa banyak kita saksikan para ulama menyampaikan dakwahnya, difitnah, dikejar-kejar dengan sejam, diolok-olok, dihina, dimaki, diperkusi bahkan dipenjarakan. Mereka para ulama, aktivis dakwah tidak sedikit syahid dalam menyampaikan dakwah.

Hambatan serta cobaan dakwah ini bisa berujung kepada dua hal yaitu menjadi kuat (qowiy) atau menjadi sangat lemah hingga meninggalkan dunia dakwah.
Tidak sedikit kita temukan bagaimana seorang aktivis dakwah berubah oriantasi ketika telah berhadapan dengan lingkungan yang berbeda dari harapan yang diinginkan.
Dunia dakwah ditinggalkan bahkan mereka bisa menjadi sebaliknya menyerang aktivitas dakwah yang sesungguhnya.

Orientasi dakwah berubah menjadi orientasi materi, dunia menjadi tujuan, menjadi sesuatu yang harus dikejar dan didapatkan.
Mereka hadir ditengah-tengah umat seakan ulama, pemimpin umat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam Bersabda,

» سَيَأْتِيَ عَلَى الناَّسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ» [رواه الحاكم في المستدرك، ج

Artinya : “Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (HR. Al-Hakim)

Pemahaman konteks haidst ini adalah, pemimpin Ruwaibidho Imam As-Syathibi Rahimahullahu menjelaskan, Mereka mengatakan bahwa dia adalah orang bodoh yang lemah, yang membicarakan urusan umum. Dia bukan ahlinya untuk berbicara tentang urusan khalayak ramai tapi tetap saja dia menyatakannya. (Imam As-Syathibi).

Dari berbagai gambaran di atas, bisa disimpulkan bahwa hadits ini menjelaskan tentang kelompok orang yang tidak peduli terhadap urusan agama. Mereka adalah budak hawa nafsu dan dunia. Mereka mengibarkan bendera Jahiliyyah.
Menyeru kepada ideologi dan  pemahan sesat dan merusak, seperti, Komunisme, Sekularisme, Liberalisme, Pluraisme.

Mereka berambisi menjadi penguasa, pada hal mereka adalah orang licik. Mereka bukanlah orang yang mencari kebenaran, bukan pula orang yang menggengamnya dengan jujur tapi mereka adalah para pembohong yang pandai mengklaim. Bagi orang yang mempunyai kepekaan dan nurani, tentu tidak sulit mengetahui kondisi mereka.
Meskipun mereka mengklaim membela dan menolong kebenaran.

Di antara fitnah yang paling mematikan dalam keberagamaan umat ini adalah, munculnya para ulama’ su’. Ulama’ su’ adalah ulama’ jahat.

Dikatakan jahat, karena mereka bukannya menunjukkan jalan yang benar kepada umat, namun justru rakus kepada kehidupan dunia. Dan akhirnya mereka menjual agamanya untuk kemaslahatan dunianya.

Kadang mereka lebih fasih dan lebih mudah untuk diterima penjelasannya.
Bahkan metodenya juga bervariasi sehingga umat banyak yang tertarik terhadap mereka.

Ketertarikan itulah yang kemudian menjadikan sebagian umat ini mengikuti apa yang menjadi pemikiran para ulama’ su’ tersebut. Padahal mereka pada hakekatnya di atas kesesatan. Tentang mereka ini. Anas bin Malik RA menuturkan sebuah hadist:

ﻭَﻳْﻞٌ ِﻷُﻣَّﺘِﻲْ ﻣِﻦْ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀِ ﻳَِﺘَّﺨِﺬُﻭْﻥَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺗِﺠَﺎﺭَﺓً ﻳَﺒِﻴْﻌُﻮْﻧَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَﺮَﺍﺀِ ﺯَﻣَﺎﻧِﻬِﻢْ ﺭِﺑْﺤﺎً ِﻟﻸَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻻَ ﺃَﺭْﺑَﺢَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗِﺠَﺎﺭَﺗَﻬُﻢْ

Artinya :
Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’ mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.
Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu. (HR al-Hakim)

Anas RA juga meriwayatkan:

ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﺃَﻣَﻨَﺎﺀُ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺨَﺎﻟِﻄُﻮْﺍ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﻭَ ﻳُﺪَﺍﺧِﻠُﻮْﺍ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﺎِﺫَﺍ ﺧَﺎﻟَﻄُﻮْﺍ ﺍﻟﺴُّﻠْﻄَﺎﻥَ ﻭَ ﺩَﺍﺧَﻠُﻮْﺍ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺧَﺎﻧُﻮْﺍ ﺍﻟﺮُّﺳُﻞَ ﻓَﺎﺣْﺬَﺭُﻭْﻫُﻢْ ﻭَﻓِﻲْ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ ﻟِﻠْﺤَﺎﻛِﻢِ ﻓَﺎﻋْﺘَﺰِﻟُﻮْﻫُﻢْ

artinya :
Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu, jauhilah mereka. (HR al-Hakim)

ﻗﺎﻝ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ: ﺇﻥ ﺃﺧﻮﻑ ﻣﺎ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﻤﻨﺎﻓﻖ ﺍﻟﻌﻠﻴﻢ. ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻭﻛﻴﻒ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﺎﻓﻘﺎً ﻋﻠﻴﻤﺎً؟ ﻗﺎﻝ : ﻋﻠﻴﻢ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﺟﺎﻫﻞ ﺍﻟﻘﻠﺐ  ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ .

Umar Bin Khathab RA berkata “Sesungguhnya paling mengkhawatirkannya yang aku khawatirkan dari umat ini adalah para munafiq yang berilmu”

Para sahabat bertanya “Bagaimana orang munafiq tapi ia alim?”
Umar menjawab “Mereka alim dalam lisannya tapi tidak dalam hati dan amaliahnya”

Riwayat lain dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ﻣَﻦْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺒْﺘَﻐَﻰ ﺑِﻪِ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻻَ ﻳَﺘَﻌَﻠَّﻤُﻪُ ﺇِﻻَّ ﻟِﻴُﺼِﻴﺐَ ﺑِﻪِ ﻋَﺮَﺿًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺪْ ﻋَﺮْﻑَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ

Artinya :
“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud dan Ahmad )

Zaman ini kita melihat betapa banyak orang bergelar ulama atau intelektual muslim, namun berusaha menjauhkan umat dari agamanya dengan menafsirkan al Quran dan as Sunnah sekehendak nafsunya.
Menistakan ulama, menjadikan orang-orang kafir sebagai sahabat.

Semoga Allah SWT menolong kita, agar tetap istiqomah dalam beragama dan jalan dakwah.

SEMOGA BERMANFAAT