Bersyukur Atas NikmatNya
Bersyukur Atas NikmatNya

 

Tauhid Ichyar – Mengulang Kaji – Bersyukur Atas NikmatNya

makobar.com  – Syukur berasal dari kata ”syakara” yang berarti membuka, sebagai lawan dari kata kafara (kufur) yang berarti menutup. Sedangkan menurut istilah syara’ syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan ketundukan kepadanya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah.

Imam al-Qusyairi mengatakan, ”hakikat syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan Allah yang di buktikan dengan ketundukan kepada-Nya”.

Makna syukur itu adalah mempergunakan nikmat Allah menurut kehendak Allah sebagai pemberi nikmat.

Karena itu, dapat dikatakan bahwa syukur yang sebenarnya adalah mengungkapkan pujian kepada Allah dengan lisan, mengakui dengan hati akan nikmat Allah, dan mempergunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak Allah.”

Allah SWT berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya :
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 7)

Kata kunci dari syukur adalah pandai berterima kasih, tahu diri, tidak
suka sombong, dan tidak lupa kepada Allah SWT.

Bagi seorang Muslim, kunci syukur itu adalah ingat Allah. Kita ada karena Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.

Di sinilah, syukur seringkali disamakan dengan ungkapan
rasa “terima kasih” dan segala pujian hanya untuk Allah semata.

Semakin sering bersyukur dan berterima kasih, kita akan semakin baik, aman, tenteram
dan bahagia.

Allah SWT berfirman:

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

Artinya :
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

Dijelaskan dalam tafsir As-Sa’di karangan Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as-Sa’di bahwa:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu”

Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk mengingat-Nya, dan menjanjikan baginya sebaik-baik balasan  yaitu bahwa Allah akan mengingatnya pula, yakni bagi orang yang ingat kepada-Nya.

Sabda Rasulullah SAW :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Artinya :
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Bersyukur kepada Allah, senantiasa menghidupkan dzikir, yakni dzikir yang dilakukan dengan hati dan lisan, dzikir yang menumbuhkan kecintaan kepada-Nya dan menghasilkan ganjaran yang banyak dari-Nya.

Dzikir merupakan puncak dari rasa syukur, oleh karena itu Allah memerintahkan hal itu secara khusus, kemudian memerintahkan untuk bersyukur dengan berfirman:

وَاشْكُرُوا لِي

 “Dan bersyukurlah kepada Ku”.

Maksudnya terhadap nikmat-Ku kepada kalian dengan nikmat-nikmat tersebut, dan Aku jauhkan dari kalian berbagai macam kesulitan.

Syukur itu dilakukan dengan hati berupa pengakuan atas kenikmatan yang didapatkan, dengan lisan berupa dzikir dan pujian , dan dengan anggota tubuh berupa ketaatan kepada Allah serta kepatuhan terhadap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Syukur itu menyebabkan kelanggengan nikmat yang telah didapatkan dan menambah kenikmatan yang belum didapat.

Dengan adanya perintah bersyukur setelah kenikmatan agama seperti ilmu dan akhlak serta taufik dengan pengamalan merupakan penjelasan bahwa hal itu merupakan sebesar-besarnya nikmat, bahkan hal tersebut adalah kenikmatan yang selalu eksis bila yang lain lenyap.

Dan samestinya bagi orang yang diberikan taufik, berupa ilmu dan amal agar selalu bersyukur kepada Allah SWT.

Kebalikan dari rasa syukur adalah ingkar, Allah melarang, seraya berfirman :

وَلَا تَكْفُرُونِ 

.”Dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”

Maksud dari pengingkaran disini adalah satu hal yang bertolak belakang dengan rasa syukur yaitu ingkar terhadap kenikmatan yang diberikan-Nya, menampik bersyukur kapada-Nya.

Pengingkaran terhadap Allah dengan bermacam-macam kemaksiatan dan segala bentuk kesyirikan.

Maka sepantasnya hamba yang berakal, pandai bersyukur yakni hamba yang bersegera beramal shalih sebelum kedatangan perkara-perkara yang menghalanginya.

Imam Al Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Nabi SAW bersabda saat memberi nasihatnya :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ , شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ , وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقْمِكَ , وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ , وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ , وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Artinya :
Ambillah kesempatan lima (keadaan) sebelum lima (keadaan). (Yaitu) mudamu sebelum pikunmu, kesehatanmu sebelum sakitmu, cukupmu sebelum fakirmu, longgarmu sebelum sibukmu, kehidupanmu sebelum matimu. [HR Al Hakim]

Rasa syukur dengan beramal sholeh semestinya terus kita lakukan lewat hati, lisan maupun perbuatan. Apakah disaat kita sehat, sakit, senang atau bersedih, hati dan lisan harus istiqomah berdzikir mengingat-Nya.

Kita tidak pernah tahu saatnya kapan Allah memanggil kita, kita bermohon saatnya kembali kepada-Nya disaat itu kesyukuran masih melekat dalam diri kita. Amin.

SEMOGA BERMANFAAT