Mengulang Kaji - Amanah Kekuasaan
Pada era Abu Bakar Ash-Shiddiq, khalifah dipilih lewat musyawarah (Ilustrasi /Republika)
Tauhid Ichyar –  Mengulang Kaji – Amanah Kekuasaan

Hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang dalam mengemban amanah Allah SWT sebagai khalifah dipermukaan bumi.

Dalam hidup ini sebagai hamba-Nya ada empat dimensi media dalam berkreasi guna menggapai rido-Nya yakni, bumi sebagai ladang beramal, waktu sebagai sebuah kesempatan beramal,nilai-nilai Islam menjadi landasan amal dan potensi diri sebagai modal beramal.

Maka seorang Muslim yang baik adalah orang yang senantiasa paham akan keterbatasan serta potensi, hambatan serta tantangan yang dihadapi untuk sebuah amal jariah yang bermanfaat untuk umat dengan berharap rido Allah SWT.

Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karunia Allah dan berbuat amal shalih.

Indikator keimanan seseorang adalah sejauh mana seorang hamba mampu mengemban amanah.
Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang munafik adalah khianat dan melalaikan amanah-amanahnya.

Amanah, dapat diartikan sebagai tugas, dan tanggungjawab.
Sehingga amanah sering dihubungkan dengan kekuasaan.

Allah SWT berfirman:

قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَآءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَآءُ ۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَآءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya :
“Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 26)

Allah menerangkan pula bahwa segala kebajikan terletak ditangan-Nya baik kenabian, kekuasaan maupun kekayaan. Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT yang mengatur menurut kemauan-Nya. Tidak ada suatu makhluk yang bisa menandingi-Nya.

Al Imam Ibnu al Atsir rahimahullah berkata, amanah bisa bermakna ketaatan, ibadah, titipan, kepercayaan, dan jaminan keamanan.

Begitu juga al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah membawakan beberapa perkataan dari sahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini. Ketika menafsirkan surat al Ahzab ayat 72,

Allah SWT berfirman:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِنْسَانُ ۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا

Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Al Hafizh Ibnu Katsir membawakan beberapa perkataan sahabat dan tabi’in tentang makna amanah dengan menyatakan, makna amanah adalah ketaatan, kewajiban-kewajiban, (perintah-perintah) agama, dan batasan-batasan hukum.

Asy Syaikh al Mubarakfuri rahimahullah berkata,”(Amanah) adalah segala sesuatu yang mewajibkan engkau untuk menunaikannya”.

Adapun menurut asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah-amanah adalah, kepercayaan orang berupa barang-barang titipan, dan perintah Allah berupa shalat, puasa, zakat dan semisalnya, menjaga kemaluan dari hal-hal haram, dan menjaga seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan dosa.

Sehingga, sudah semestinya seseorang yang dibebani amanah, ia menunaikannya dengan sebaik-baiknya dengan menyampaikan kepada pemiliknya.

Ia tidak boleh menyembunyikan, mengingkari, atau bahkan menggunakannya tanpa izin yang syar’i.

Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, yang menjelaskan amanah dan menepati janji merupakan salah satu sifat orang beriman, ia berkata:

مَا خَطَبَنَا نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلاَّ قَالَ: لاَ إِيْـمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَـةَ لَهُ، وَلاَ دِيْـنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَـهُ .

Artinya :
“Tidaklah Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami, melainkan beliau bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya”.(Hadits)

Amanah, sangat mudah diucapkan, namun untuk dapat diimplementasikan atas kata ini dibutuhkan keberanian, konsistensi dan konsekwensi.

Betapa sering kita mendapat tantangan amanah, saat Allah memberi kita kekuasaan di legislatif, judikatif, eksikutif, jabatan strategi di perusahaan, kedinasan negara atau amanah lainnya.

Kita mengeluhkan tentang amanah yang terkadang terasa begitu berat. Melaksanakan tugas, wewenang dan tanggungjawab dilaksanakan sebagaimana mestinya ternyata melenceng dari koridor awal perjuangan.

Idealisme tergerus tekanan kepentingan politik, golongan, keluarga dan pribadi serta lika-liku fatamorgana dunia, yang pada akhirnya terjebak diri pada khianat pada amanah yang dipikul, amanah terabaikan.

Fatamorgana dunia begitu nyata terasa bagai bayang – bayang indah yang datang silih berganti.

Apalagi jika harus berbenturan dengan kondisi azzam yang melemah dan semangat yang sedikit demi sedikit terasa padam. Saat seperti inilah hedonisme dunia akan terasa sangat menggiurkan.

Ini adalah sebuah kesalahan besar, yang terkadang kita menghibur diri berangapan bahwa kondisi tersebut cukup manusiawi. Tiada kata memaklumi. Harus ada perlawanan yang kuat untuk kembali menjaga stabilitas keimanan.

Kita harus berusaha sekuat kita. Ingat azab bagi pelaku khianat terhadap amanah.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْۤا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 27)

Allah SWT berfirman:

وَاعْلَمُوْۤا اَنَّمَاۤ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

Artinya :
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 28)

Hanya diri kita dan pertolongan Allah yang mampu memenjarakan nafsu dan menjaga diri untuk tetap pada jalan Nya.

Dalam surat Annissa Allah SWT berfirman :

اِنَّا اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ اْلكِتبَ بِاْلحَقّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا اَريكَ اللهُ وَ لاَ تَكُنْ لّلْخَآئِنِيْنَ خَصِيْمًا(105) وَ اسْتَغْفِرِ اللهَ، اِنَّ اللهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا(106) وَ لاَ تُجَادِلْ عَنِ الَّذِيْنَ يَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَهُمْ، اِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا اَثِيْمًا(107) النساء:105-107

Artinya :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,  (105)
dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (106)
Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, (107) [QS. An-Nisaa’ : 105-107]

Rasulullah SAW bersabda tentang amanah dengan tegas :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قَالَ اللهُ تَعَالَى، ثَلاَثَةٌ اَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ: رَجُلٌ اَعْطَى بِى ثُمَّ غَدَرَ، وَ رَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَ رَجُلٌ اسْتَأْجَرَ اَجِيْرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ اْلعَمَلَ وَ لَمْ يُوَفّهِ اَجْرَهُ. البخارى

Artinya :
Dari Abu Hurairah RA ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Allah Ta’ala berfirman : Ada tiga golongan yang besuk pada hari qiyamat menjadi musuh-Ku; 1. Orang yang berjanji dengan nama-Ku, kemudian dia khianat, 2. Orang yang menjual orang merdeka, lalu ia makan harganya (hasil penjualan itu), dan 3.  orang yang mempekerjakan buruh (karyawan) dan karyawan itu telah bekerja dengan baik tetapi orang tersebut tidak memberikan upahnya dengan sempurna. [HR. Bukhari]

عَنْ عَلِيّ رض قَالَ: كُنَّا جُلُوْسًا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَطَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ مِنْ اَهْلِ اْلعَالِيَةِ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَخْبِرْنِى بِاَشَدّ شَيْءٍ فِى هذَا الدّيْنِ وَ اَلْيَنِهِ! فَقَالَ: اَلْيَنُهُ شَهَادَةُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ، وَ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. وَ اَشَدُّهُ يَا اَخَا اْلعَالِيَةِ اْلاَمَانَةُ. اِنَّهُ لاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ اَمَانَةَ لَهُ. وَ لاَ صَلاَةَ لَهُ. وَ لاَ زَكَاةَ لَهُ. البزار

Artinya :
Dari Ali RA, ia berkata : Dahulu kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki dari penduduk ‘Aliyah lalu bertanya, “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang paling berat di dalam agama ini maupun yang paling mudah”. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Yang paling mudah ialah mengucapkan syahadat bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya. Adapun yang paling berat wahai saudara dari ‘Aliyah, ialah amanat. Sesungguhnya tidak ada agama bagi orang yang tidak amanat, tidak shalat dan tidak zakat”. [HR. Al-Bazzar]

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: خَيْرُكُمْ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ يَكُوْنُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُوْنَ وَ لاَ يُسْتَشْهَدُوْنَ، وَ يَخُوْنُوْنَ وَ لاَ يُؤْتَمَنُوْنَ، وَ يَنْذِرُوْنَ وَ لاَ يُوْفُوْنَ، وَ تَظْهَرُ فِيْهِمُ السّمَنُ. البخارى و مسلم

Artinya :
Dari ‘Imran bin Hushain RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian ialah orang-orang pada zamanku, kemudian orang-orang berikutnya, kemudian orang-orang berikutnya lagi. Kemudian akan ada sesudah mereka itu suatu kaum yang mereka itu menyaksikan tetapi mereka tidak bisa dijadikan saksi, mereka itu berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka itu bernadzar tetapi tidak melaksanakan (nadzarnya), dan tampaklah kegemukan dikalangan mereka itu (karena memakan harta tidak memperdulikan halal-haramnya). [HR. Bukhari dan Muslim]

Kekuasaan, merupakan amanah, rebutlah dari tangan para pengkhianat yang menyia-nyiakan amanah kekuasaan, bila sampai dipundak pegang dengan erat, tunaikan janji-janji kepada Allah SWT.

SEMOGA BERMANFAAT