Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kanan) didampingi KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1439 H/2017 M di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/11/2017). (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kanan) didampingi KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 1439 H/2017 M di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/11/2017). (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
makobar.com – Jenderal Gatot Sebut Hadi Tjahjanto Sangat Cocok Jadi Penggantinya

BOGOR – Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyebut Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto cocok menjadi penggantinya. Hal ini disampaikannya pada pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Selasa.

Ia mengatakan bahwa di antara tiga kepala staf angkatan, yang paling memenuhi syarat menjadi panglima pada tahun politik adalah KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto.

“Pak Hadi sangat cocok untuk menjadi Panglima TNI dalam tahun politik, itu harus sama-sama kita yakini, Presiden yang pakai kok,” kata Panglima TNI Gatot Nurmantyo di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Selasa.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, yang lahir di Malang pada 8 November 1963, dianggap paling sesuai karena sejak awal sudah dipersiapkan dan baru pensiun setelah tahun politik berlalu.

“Pertama, KSAL bulan Mei pensiun, kalau jadi Panglima TNI kan cuma sebentar, KSAD Januari 2019 pensiun, KSAU ini sampai 2020 sehingga bisa memimpin TNI menghadapi tahun politik dengan lancar,” katanya.

Baca Juga :

Gatot mengatakan bahwa belakangan dia hampir setiap hari bertemu dengan Hadi sehingga informasi dan pesan mengenai pergantian posisi bisa disampaikan setiap hari.

Ia menilai tahun politik ke depan merupakan masa dengan tantangan sangat tinggi yang memerlukan kesigapan antisipasi.

“Kita melihat bagaimana pilkada atau pilgub di DKI, begitu keras, tensinya tinggi, mengerahkan pasukan begitu banyak, sekarang ini bukan hanya satu, ada 171, dan semua benar-benar berjuang, karena yang menentukan kepala daerah ini juga modal untuk pileg dan pilpres, agak keras. Ini yang perlu diantisipasi betul,” katanya. (mc/min)