BNN Amankan 13 Orang dan Sita 13 Juta Pil PCC di Sebuah Rumah Mewah
BNN Amankan 13 Orang dan Sita 13 Juta Pil PCC di Sebuah Rumah Mewah

makobar.comBNN Amankan 13 Orang dan Sita 13 Juta Pil PCC di Sebuah Rumah Mewah.

Semarang – Aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) mengamankan 13 juta butir pil PCC (Paracetamol Caffein Carisoprodol) siap edar dari pabrik yang berlokasi di Jalan Halmahera Raya, Kota Semarang.

BNN mengamankan 11 karyawan dan 2 tersangka utama yakni  pemilik pabrik yang bernama Djoni dan pemilik modalnya, Ronggo asal Tasikmalaya, Jawa Barat.

“Ada 11 pelaku atau tersangka yang kita amankan. Dari pengakuan para tersangka, mereka sudah memproduksi sejak 3 bulan terakhir,” kata Kepala BNN, Komjen Budi Waseso di lokasi penggerebekan, Jalan Halmahera, Kota Semarang, Senin (4/12/2017).

Baca juga : FOTO : Survei Indo Barometer, Prabowo Pesaing Utama Jokowi di Pilpres 2019

Para tersangka utama Joni (38) dan Ronggo (52) dihadirkan di depan rumah untuk kepentingan jumpa pers, sedangkan 11 karyawan berada di dalam rumah atas nama Ahmad, Zaenal, Tono, Panuwi, Ade Ruslan, Hartoyo, Budi, Kriswanto, Ade Ridwan, Krisno, dan Suroso.

Buwas menjelaskan keterlibatan para karyawan masih tetap diselidiki, jika terbukti tahu pekerjaannya adalah membuat obat terlarang makan akan diproses hukum lebih lanjut.

“Ini karyawan digaji Rp 9 juta, Rp 5 juta, macam-macam,” jelas Buwas.

Untuk diketahui, rumah mewah yang digunakan untuk memproduksi PCC dan Dextro itu bisa menghasilkan 9 juta butir obat terlarang setiap harinya. Mereka juga memiliki gudang di Jalan Gajah Dalam Semarang.

“Dengan produksi sebanyak itu, keuntungan bersih yang diperoleh mencapai Rp. 2,7 miliar per bulan,” ujarnya.

Baca juga : Alwin Jamin Stok Bahan Pokok Saat Natal dan Tahun Baru, Aman

Ia mengatakan pabrik PCC itu sudah punya pasar dan para pelaku sudah meraup banyak uang dari usaha ilegal yang merusak generasi Indonesia itu.

“Produk ilegal ini dipasarkan ke wilayah Kalimantan,” tambahnya.

Budi Waseso menjelaskan bahwa aparatnya melakukan pengintaian selama sekitar lima bulan untuk membongkar jaringan itu, yang menurut dia pelakunya bukan pemain baru karena sudah berpengalaman dalam proses peracikan dan produksi obat itu.

“Ini termasuk industri profesional. Ruang produksinya didesain kedap suara sehingga lingkungan sekitarnya tidak menyadari,” pungkas Buwas.(zack)