Mengulang Kaji - Bencana Gempa Bumi
Foto : Tribunnews
Mengulang Kaji – Bencana Gempa Bumi | Oleh Tauhid Ichyar
Allah SWT berfirman:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1)

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2)

وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3)

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4)

بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5)

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6)

 فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7)

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Artinya :
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

Beberapa dekade terakhir ini, bumi Nusantara menjadi pusat perhatian dunia karena bencana-bencana alam yang mengerikan dan menyebabkan banyak korban dengan jumlah kematian pencapai ratusan ribu manusia dan hewan, menghancurkan ekosisten serta merusak berbagai wilayah laut, daratan serta berbagai infrastruktur, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi.

Gempa bumi yang beruntun mengguncang berbagai daerah di Indonesia ternyata membuat para ahli sibuk menganalisa, mencocokan hasil analisa mereka dengan bencana terjadi, dan berusaha menangkap tanda-tanda alam ini.

Para ilmuwan khususnya para ahli seismologi, menjadikan bencana gempa yang beruntun ini sebagai ladang informasi ilmiah yang paling berguna untuk mengungkapkan apa dan bagaimana misteri bencana alam yang menakutkan ini bisa terjadi, kapan akan muncul lagi dan bagaimana cara mengatasinya, agar korban jiwa dapat dihindari.

Bagi orang-orang yang tidak peduli, atas kejadian gempa bumi ini tidak perlu analisa apapun, yang terucap adalah, ” tak perlu risau, ini fenomena alam, semua ini akan berlalu”, “semoga kerugian material ini segera dapat direalisasikan Pemerintah”.

Sementara bagi sebagian kecil orang-orang beriman maka gempa akan dianalisa sebagai i’tibar, adakah kehadiran gempa bumi merupakan suatu tanda-tanda alam untuk menyampaikan pesan dari kemurkaan Allah atas ulah manusia.

Apakah gempa bumi hadir sebagai ujian yang akan mendulang pahala karena sabar dan tawakal ataukah gempa bumi hadir yang hanya akan menghabiskan tabungan pahalanya karena berkeluh kesah dan menyalahkan Allah SWT.

Orang-orang beriman dan beramal saleh akan senantiasa mengaitkan tanda-tanda alam ini dengan perbuatan manusia yang melampaui batas.

Sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَاِنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوْهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيٰمَةِ اَوْ مُعَذِّبُوْهَا عَذَابًا شَدِيْدًا ۗ كَانَ ذٰ لِكَ فِى الْـكِتٰبِ مَسْطُوْرًا

Artinya :
“Dan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau Kami siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuz).”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 58)

Ayat ini merupakan pemberitahuan dari Allah, bahwasanya Dia telah memutuskan dan melaksankan apa yang telah ditetapkan di sisi-Nya di Lauhil Mahfuzh.

Yaitu tidak ada suatu negeri pun melainkan akan dibinasakan-Nya. Akan Dia binasakan penduduknya secara keseluruhan atau akan di adzab; ‘adzaaban syadiidan (“Dengan adzab yang sangat keras.”).

Baik melalui pembunuhan (peperangan) ataupun malapetaka, banjir, gempa bumi, tsunami atau azab lainnya sesuai dengan kehendak-Nya. Dan hal itu terjadi disebabkan oleh dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka.

Allah SWT berfirman:

كَدَأْبِ اٰلِ فِرْعَوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاَخَذَهُمُ اللّٰهُ بِذُنُوْبِهِمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya :
“(keadaan mereka) serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sungguh, Allah Maha Kuat lagi sangat keras siksa-Nya.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 52)

Ayat ini menceritakan bagaimana kebiasaan orang-orang kafir itu, yakni sama dengan kebiasaan Firaun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelum mereka.
Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah SWT menyiksa mereka, menurunkan bencana, mengazab mereka disebabkan perbuatan atas dosa-dosanya.

Bencana alam, datangnya tidak dapat diperkirakan dan tidak dapat dicegah menggunakan sarana teknologi atau tindakan penanggulangan dini.
Hal ini menunjukkan betapa tak berdaya manusia sesungguhnya terhadap kehendakNya.

Hingga kini, telah terjadi sejumlah bencana alam besar seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, angin tornado, badai, angin topan, banjir, dan tsunami.
Semua ini telah menimbulkan banyak kerusakan parah dan merenggut banyak nyawa manusia dan mahluk hidup.

Bisa jadi fenomena alam ini sebagai pertanda nyata bagi orang-orang yang mau merenungi kekuasaaanNya, inilah awal akhir zaman.

SEMOGA BERMANFAAT