Mengulang Kaji - Menjaga Lingkungan Hidup
Mengulang Kaji - Menjaga Lingkungan Hidup

Oleh Tauhid Ichyar – Mengulang Kaji – Menjaga Lingkungan Hidup

 

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya :
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)

Dalam ayat ini, Allah SWT menyuruh Hamba-hambaNya untuk merenungkan alam, langit dan bumi.

Langit melindungi bumi yang terhampar luas tempat manusia hidup. Juga memperhatikan pergantian siang dan malam.

Semuanya itu penuh tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Sebagai kalifah dimuka bumi ini manusia diberi amanah agar senantiasa menjaga serta memelihara kelestarian alam.

Islam sangat memperhatikan kelestarian alam. Perintah dan larangan dalam berbagai ayat dan hadist dalam menjaga dan melestarikan alam, meskipun dalam perperangan.

Kaum Muslimin tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang perbuatan merusak lingkungan hidup karena bisa membahayakan kehidupan manusia di muka bumi. Karena bumi yang kita tempati ini adalah milik Allâh Azza wa Jalla dan kita hanya diamanahkan untuk menempatinya sampai pada batas waktu yang telah Allâh Azza wa Jalla tetapkan.

Explorasi hutan, menebang tanpa batas, mengeruk hara, menghancurkan humus penahan air, membakar hutan, menjadikan sungai buangan limbah. Menimbulkan banjir, kabut asap, pencemaran udara, sungai dan laut, mengakibatkan pemanasan global. Kezaliman terhadap lingkungan hidup ini mengundang bencana besar bagi umat manusia.

Selain kezaliman atas explorasi tanpa batas terhadap alam, manusia juga cendrung melakukan maksiat, kesyirikan, kuffur nikmat.

Dengan sadar atau tanpa disadari mengundang azab Allah yang sangat pedih.

Pristiwa banjir besar melanda kaum Nuh Alaihissallam dikarenakan kekufuran dan penolakan mereka terhadap dakwah Nuh Alaihissallam.

Kejadian terdahulu yang mengerihkan saat Allah menurunkan azab, bumi dibalikkan kepada kaum Luth sehingga bumi berbalik yang atas menjadi bawah dan yang bawah menjadi atas disebabkan kemaksiatan kaum LGBT yang melampaui batas.

Oleh karena itu, manusia tidak boleh semena-mena mengeksplorasi alam dan melakukan maksiat kepada Allah yang sangat melampaui batas.

Ibnu Katsîr rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya: “Makna firman Allâh (yang artinya) “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” yaitu kekurangan buah-buahan dan tanam-tanaman disebabkan kemaksiatan.

Abul ‘Aliyah berkata, “Barangsiapa berbuat maksiat kepada Allâh di muka bumi, berarti ia telah berbuat kerusakan padanya.

Karena pada hakekatnya kebaikan bumi dan langit, segenap semesta alam adalah mutlak ketaatan manusia kepada sang Maha Pencipta Allah Subhana Wataala.

Islam sangat memperhatikan lingkungan alam sekitar sebagaimana perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyingkirkan gangguan dari jalan yang beliau jadikan sebagai salah satu cabang keimanan, perintah beliau untuk menanam pohon walaupun esok hari kiamat.

Untuk memotivasi umatnya agar gemar menanam pohon Rasulullah SAW bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ غَرَسَ غَرْسًا فَأَكَلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ دَابَّةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Artinya :
Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.

Pada hadist lain, pahala yang terus mengalir bagi orang-orang yang semasa hudup pernah menanam pohon,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سَبْعٌ يَجْرِي لِلعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَ هُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا أَوْ وَرَثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لََهُ بَعْدَ مَوْتِهِ .

Artinya :
Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir bagi seorang hamba sesudah ia mati dan berada dalam kuburnya. (Tujuh itu adalah) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan air, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampunan untuknya sesudah ia mati.(Hadits)

Baca Juga :

Di samping hal-hal tersebut diatas Rasulullah melarang merusak lingkungan mulai dari perbuatan yang sangat kecil dan remeh seperti melarang membuang tinja di bawah pohon yang sedang berbuah, di aliran sungai, di tengah jalan, atau di tempat orang berteduh.

Rasulullah juga sangat peduli terhadap kelestarian satwa, sebagaimana diceritakan dalam Hadist riwayat Abu Dawud.

Rasulullah pernah menegur salah seorang sahabatnya yang pada saat perjalanan, mereka mengambil anak burung yang berada di sarangnya.

Karena anaknya dibawa oleh salah seorang dari rombongan Rasulullah tersebut, maka sang induk terpaksa mengikuti terus kemana rombongan itu berjalan. Melihat yang demikian, Rasulullah lalu menegur sahabatnya tersebut dengan mengatakan ”siapakah yang telah menyusahkan induk burung ini dan mengambil anaknya? Kembalikan anak burung tersebut kepada induknya!”.(Hadits)

Begitu perhatiannya Rasulullah SAW melihat seekor burung mengejar anaknya yang dipisahkan dari induknya. Ini masalah satwa. Bagaimana hal-hal besar menyangkut, gunung, hutan, laut, sungai, lingkungan hudup dan semesta alam?.

Tentu dalam berinteraksi dan mengelola alam serta lingkungan hidup, sebagai hamba Allah kita mengemban tiga amanatNya. Pertama, al-intifa’. Yakni, Allah mempersilahkan kepada umat manusia untuk mengambil manfaat dan mendayagunakan hasil alam dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kemaslahatan.

Kedua, al-i’tibar, yakni Manusia dituntut untuk senantiasa memikirkan dan menggali rahasia di balik ciptaan Allah seraya dapat mengambil pelajaran dari berbagai kejadian dan peristiwa alam.

Ketiga, al-islah, yakni Manusia diwajibkan untuk terus menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan itu.

SEMOGA BERMANFAAT