Seorang warga memerhatikan jasad korban serangan teror di masjid kota El-Arish, Sinai Utara, Mesir, (AFP/Stringer)
Seorang warga memerhatikan jasad korban serangan teror di masjid kota El-Arish, Sinai Utara, Mesir, (AFP/Stringer)
makobar.com – KBRI Kairo: Tak Ada Korban WNI dalam Serangan Bom di Masjid Sinai

KAIRO – Kedutaan Besar RI di Kairo menyatakan bahwa sampai saat ini tidak ada laporan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam ledakan di Masjid Ar-Raudhah, Markaz Bir El-Abd, kota El-Arish, Sinai Utara, Mesir, pada Jumat (24/11/2017) siang.

Bom yang diketahui sebagai jenis Improvised Explosive device (IED) yang dilancarkan oleh kelompok teroris yang tidak dikenal meledak di samping Masjid Ar-Raudhah, Markaz Bir El-Abd, Kota El-Arish, Sinai Utara, Mesir.

“Berdasarkan pantauan KBRI Kairo dan pelacakan melalui sumber keamanan Mesir, sejauh ini diperoleh informasi tak ada WNI yg menjadi korban serangan tersebut,” kata Duta Besar RI untuk Mesir, Helmy Fauzi, saat dikonfirmasi

Mengutip dari Reuters, jumlah korban dalam insiden itu kini tercatat telah 200 jiwa. Angka itu pun masih akan terus bertambah.

Selain itu, Helmy mengatakan berdasarkan catatan pihaknya tak ada WNI yang tinggal di El Arish. Jarak kota itu sekitar 450 km dari Kairo.

Lebih lanjut, Helmy mengatakan Indonesia mengecam keras serangan di Masjid Ar-Raudhah tersebut dan menyampaikan rasa duka cita bagi para korban dan keluarga.

“Atas nama rakyat Indonesia, pemerintah Indonesia berdiri bersama dengan Mesir dalam peristiwa tragis ini dan perang melawan terorisme dan radikalisme,” ujar Helmy.

Baca Juga :

Helmy mengatakan insiden bermula saat sekelompok teroris yang belum teridentifikasi meledakan bom di samping masjid. Tak hanya bom, kelompok milisi pun ikut menembaki para jemaah setelah ledakan berlangsung dari halaman masjid yang berada di kawasan Sinai tersebut.

Selama ini, otoritas Mesir menganggap bagian utara Sinai sebagai daerah rawan militan.

Pasukan keamanan Mesir telah lama memerangi ISIS di Sinai Utara, di mana milisi telah menewaskan ratusan polisi dan tentara. Pertempuran di kawasan itu terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Milisi umumnya membidik aparat keamanan dalam serangan. Belakangan mereka memperluas serangan (mc/min)