Mengulang Kaji – Gunung, Oleh Tauhid Ichyar. Pada awal abad ke-20, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Ini merupakan pernyataan awal dari seorang ilmuwan. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Pergerakan gunung ini sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an.

Allah SWT berfirman:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْۤ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَفْعَلُوْنَ

Artinya :
“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 88)

Para ahli geofisika juga menemukan bukti bahwa kerak bumi berubah terus dengan terori lempeng tektonik yang menyebabkan asumsi bahwa gunung mempunyai akar yang berperan menghentikan gerakan horizontal atau Litosfer.

Teori lempeng tektonik menyebutkan, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.

Allah SWT berfirman:

وَجَعَلْنَا فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِهِمْ ۖ وَجَعَلْنَا فِيْهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمْ يَهْتَدُوْنَ

Artinya:
“Dan Kami telah menjadikan di bumi ini gunung-gunung yang kukuh agar dia (tidak) guncang bersama mereka, dan Kami jadikan (pula) di sana jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 31)

Penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Geophysicist asal Washington, Amerika Serikat  bernama Profesor Emeritus Frank Press. Dalam bukunya yang berjudul Earth, Emeritus mengungkapkan bahwa gunung mempunyai akar yang menghujam ke dalam bumi sehingga menyerupai pasak.

Pasak atau paku besar merupakan benda yang menancap ke dalam sehingga kepala yang tampak di luar selalu lebih pendek dari panjang pasak yang menghujam ke dalam.

Ilmu pengetahuan yang ditemukan para ilmuwan semakin menguatkan kebenaran dalam Al-Qur’an yang sudah menjelaskan pengetahuan tersebut sejak 1400 tahun silam.

Allah SWT dalam surat An Naba’ mengatakan bahwa Dia menciptakan gunung sebagai pasak di bumi.

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًا

Artinya :
“Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,” (QS. An-Naba’ 78: Ayat 6)

Allah SWT berfirman:

وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًا

Artinya :
“dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba’ 78: Ayat 7)

Selama ini kita hanya takjub dan kagum kepada keindahan, kesuburan serta ketinggian gunung. Dari penelitian diketahui ternyata kedalaman akar gunung yang menghujam kedalam perut bumi 15 kali lipat dari tinggi di atas permukaan bumi, sungguh sangat dahsyat.

Sebagaimana mahluk Allah lainnya, gunung merupakan makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan, gunung adalah makhluk yang tak pernah durhaka kepada Allah.

Dalam Al Qur’an, gunung dikisahkan enggan menerima amanah Allah, sebab ia khawatir tidak sanggup menjalankannya.

Allah SWT berfirman:

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Artinya :
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah.
Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 21)

Dikisahkan pada zaman Rasulullah, pernah ada gunung yang berguncang.
Kisah itu diriwayatkan Imam Bukhari dalam shahih-nya.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

Artinya :
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki gunung Uhud, diikuti oleh Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman. Lalu gunung Uhud itu bergetar, maka beliau bersabda: “Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, Asshiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid”. (HR. Bukhari)

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad.

Dalam buku “Percikan Sains dalam Al Qur’an; Menggali Inspirasi Ilmiah” dijelaskan bahwa setelah Rasulullah berbicara kepada gunung itu, maka gempa itu pun berhenti. Subhanallah, inilah mukjizat Nabi.

Dalam hadits yang lain disebutkan isyarat Rasulullah tentang interaksi manusia dan gunung, yakni gunung Uhud. Sebagai sesama makhluk Allah SWT.

هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

Artinya :
“Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kamipun mencintainya.” (HR. Bukhari)

Sebagai hamba Allah, kecintaan kita kepada gunung bisa dilakukan dengan pendekatan ilmiah, yakni: memelihara menjaga serta melestarikan hutan yang melingkupinya dan tidak merusak tatanan hutan dengan menggunduli, membakar, membuang limbah atau explorasi hutan secara berlebihan serta menjaga ekosistem alam yang ada dalam gunung tersebut.

Berinteraksi dengan pendekatan pada addien, bahwa Allah SWT Maha Agung dengan segala ciptaanNya, artinya mendudukkan gunung sebagai makhluk ciptaan Allah, yakni gunung juga berzikir kepada Allah tidak pernah durhaka kepada penciptaNya.

Tidak menjadikan Gunung sebagai sarana mensyarikatkan Allah dengan sembahan-sembahan lain. Tidak menjadikan gunung sebagai tempat maksiat yang mengundang murka Allah.

SEMOGA BERMANFAAT