Petugas mengangkat tumpukan uang kertas pada bagian pelayanan perkasan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (7/6). Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, kebutuhan uang pada periode Ramadan dan Idul Fitri 1438 H di Jatim sebanyak Rp15,5 triliun, dengan rincian per denominasi perkiraan kebutuhan uang pecahan besar (UPB) Rp100.000, Rp50.000 dan Rp20.000 sebanyak Rp12 triliun, sedangkan kebutuhan uang pecahan kecil (UPK) Rp10.000 ke bawah sebanyak Rp3,5 triliun. ANTARA FOTO/Moch Asim/ama/17
Petugas mengangkat tumpukan uang kertas pada bagian pelayanan perkasan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (7/6). Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, kebutuhan uang pada periode Ramadan dan Idul Fitri 1438 H di Jatim sebanyak Rp15,5 triliun, dengan rincian per denominasi perkiraan kebutuhan uang pecahan besar (UPB) Rp100.000, Rp50.000 dan Rp20.000 sebanyak Rp12 triliun, sedangkan kebutuhan uang pecahan kecil (UPK) Rp10.000 ke bawah sebanyak Rp3,5 triliun. ANTARA FOTO/Moch Asim/ama/17

makobar.com – Bank Pembangunan Daerah (BPD) masih kesulitan untuk menyalurkan kredit produktif. Hal tersebut bisa terlihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sampai Agustus 2017, kredit produktif industri BPD hanya 30% dari total kredit sisanya merupakan kredit konsumer. Masih minimnya kredit produktif yang disalurkan bank daerah karena NPL di sektor ini masih tinggi.

Tercatat NPL BPD di kredit produktif mencapai 9,3%. Kredit macet BPD di sektor produktif ini disumbang oleh beberapa sektor seperti tambang, transportasi, pertaninan, properti, perdagangan dan konstruksi.

Ferdian Satyagraha, Direktur Keuangan Bank Jatim bilang untuk menjaga NPL sektor produktif bank melakukan analisa yang hati-hati.

“Kami juga banyak memperbaiki proses analisa untuk kredit yang mengalami NPL,” kata Ferdian kepada Kontan.co.id, Senin (13/11/2017).

Bank berkode emiten BJTM ini juga meningkatkan agunan untuk meminimalisir risiko. Sampai September 2017 kredit produktif Bank Jatim menyumbang 32,35% dari total kredit.

Edie Rizliyanto, Direktur Utama Bank Sumut bilang untuk meningkatkan kredit produktif dan meminimalisir risiko bank sudah menyiapkan beberapa strategi.

Pertama adalah masuk ke proyek strategis nasional. Kedua menambah produk baru pembiayaan produktif.

Ketiga adalah melakukan telaah produk yang ada dan menyesuaikan dengan kondisi saat ini. “Kami memastikan sudah memasukkan empat prinsip keputusan kredit,” kata Edie.

Hal ini seiring dengan dibentuknya divisi risiko kredit dan penempatan relationship manager kantor cabang yang menangani kredit korporasi dan komersial.

Per Otober 2017 Bank Sumut mencatat kredit produktif menyumbang 48,9% dari total kredit.

(mc/min)

Jadilah yang Pertama