Monyet titi, salah satu primata monogami
Monyet titi, salah satu primata monogami

makobar.com Kecemburuan. Kita semua pernah berhadapan dengan emosi ini. Dalam sebuah hubungan, cemburu muncul karena emosi yang lebih kuat dan mendasar, seperti rasa iri, ketidaknyamanan, kemarahan, atau ketakutakn ditinggal dan ditolak.

Psikolog berkata bahwa cemburu itu sama seperti emosi yang lain, tidak baik tetapi juga tidak buruk. Ini merupakan sifat yang timbul karena reaksi akan sesuatu.

Namun, dari otak sebelah manakah cemburu berasal?

Berbekal rasa penasaran tersebut, para peneliti dari Universitas California Davis memutuskan untuk mempelajari monyet titi dan mengidentifikasikan syaraf kecemburuan pada primata yang mirip 96 persen dengan manusia tersebut.

[ Baca Juga : Harapan di Tengah Nasib Pilu Cenderawasih di Papua ]

Monyet titi (Callicebus cupreus) berasal dari lembah sungai Amazon, Brasil. Dia merupakan salah satu dari segelintir primata yang mempraktikkan monogami seumur hidup.

Seperti manusia, monyet ini membentuk ikatan yang erat dalam hubungan dan menjadi marah saat berpisah dengan pasangannya. Monyet titi jantan bahkan dikenal selalu siap menjaga pasangannya dari bahaya.

Peneliti di Pusat Penelitian Primata National California di UC Davis memublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal online Frontiers in Ecology and Evolution.

Dilansir dari Big Think 26 Oktober 2017, peneliti utama Dr Karen Bales mengatakan, mereka memiliki perilaku dan emosi seperti yang kita rasakan.

Pasangan monyet titi saling menjaga pasangannya, dan monyet titi jantan menunjukkan respons cemburu. Mereka mengibas-ngibaskan ekor dan membungkukkan punggung saat cemburu.

[ Baca Juga : Kisah Suku Amazon Yang Tak Mengenal Modernisasi ]

Untuk membangkitkan emosi cemburu, Dr Bales dan rekannya menempatkan setiap monyet betina dengan seekor monyet jantan asing di tempat yang sama selama setengah jam. Keduanya dapat dilihat oleh pasangan dari betina tersebut dengan jelas.

Para peneliti juga memiliki kelompok pengontrol, di mana ada betina dan jantan yang sama-sama asing ditempatkan di satu tempat yang sama.

Perilaku para monyet kemudian direkam dan otaknya dipindai untuk melihat bagian mana yang berreaksi.

Ternyata, saat kondisi cemburu tercipta, jaringan syaraf otak yang dikenal dengan cingulate cortex mengalami lonjakan aktivitas yang sangat dramatis.

Area ini dikenal memfasilitasi ikatan pasangan pada primata, dan pada manusia, bagian ini terkait dengan pengucilan sosial dan rasa sakit sosial. “Peningkatan aktivitas pada korteks cingulate sesuai dengan kecemburuan sebagai penolakan sosial,” kata Bales.

Aktivitas yang meningkat juga terdeteksi di septum lateral, area yang berhubungan peran perilaku agresif. “Studi sebelumnya mengidentifikasi septum lateral terlibat dalam pembentukan ikatan pada primata,” sambungnya.

Dari penelitian yang dilakukannya, kecemburuan ternyata memiliki hubungan yang erat dengan ikatan sosial dan emosional.

Selain melihat aktivitas otak, para peneliti juga sudah menguji kadar hormon monyet jantan. Saat cemburu, ada peningkatan kadar testosteron dan kortisol.

Testosteron berkaitan dengan persaingan dan agresi (marah) antar pria, sementara kortisol merupakan hormon stres. “Mencoba menjauhkan pasangan dari pesaing secara evolusioner bertujuan untuk mempertahankan hubungan,” kata Bales.

Kini, langkah berikutnya bagi para peneliti adalah mempelajari kecemburuan pada monyet titi betina.

Bales mengatakan, perbedaan seks dalam neurobiologi perilaku sosial mungkin dapat menjelaskan mengapa lebih banyak anak laki-laki yang menderita autisme, dan mengapa pria dan wanita bertindak berbeda dalam hubungan romantis.

“Pemahaman yang lebih baik tentang neurobiologi dapat memberikan petunjuk penting tentang bagaimana mendekati masalah kesehatan dan kesejahteraan, seperti kecanduan dan kekerasan pasangan, termasuk autisme,” tutupnya.

(mc/min) 

Jadilah yang Pertama