Petani baduy menunggu dimulainya penanaman padi huma di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (26/10/2017). (GARRY ANDREW LOTULUNG)
Petani baduy menunggu dimulainya penanaman padi huma di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (26/10/2017). (GARRY ANDREW LOTULUNG)

makobar.com –¬†Pagi di pintu masuk Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (26/10/2017), terasa berbeda. Puluhan orang Baduy berjalan bersama untuk pergi berladang secara serentak.

Menurut penghitungan adat, hari ini adalah hari yang baik untuk membuka ladang dan menanam padi dan juga untuk menghindari serangan hama.

“Kami semua bersama para isteri membuka ladang karena curah hujan cukup tinggi,” kata Rasudim, yang telah menanam padi huma sesuai perintah adat sejak nenek moyangnya.

Proses penanaman padi huma diawali dengan ritual-ritual baca doa dari tetua Suku Baduy, setelah itu penanaman pun dimulai dari kaum lelaki dengan memakai kayu membuat lubang diikuti dengan kaum perempuan memasukkan bibit padi di lubang tersebut lalu menutupnya dengan kaki.

Setelah proses penanaman huma selesai, petani baduy terlihat memainkan angklung secara bersamaan dan diakhiri dengan makan bersama.

“Kami sejak turun temurun menanam padi huma di ladang dan tidak menggunakan pupuk kimia,” katanya.

Penanaman padi huma dilakukan setiap setahun sekali dengan masa panen selama enam bulan, masa panenpun akan dilakukan secara bersamaan.

“Kami berharap produksi padi huma pada musim panen mendatang tidak menyusut dan berkurang,” tutup Rasudim.¬† (mc/min)

[Baca Juga: Harapan di Tengah Nasib Pilu Cenderawasih di Papua]

Jadilah yang Pertama